Daftar target yang disusun Allen mencakup sejumlah pejabat tinggi pemerintahan yang diurutkan berdasarkan pangkat tertinggi, meski Direktur FBI Kash Patel tidak termasuk di dalamnya. Allen juga mengejek sistem keamanan hotel yang ia anggap "gila" karena sangat longgar.
"Satu hal yang langsung saya sadari saat berjalan masuk ke hotel adalah rasa sombong mereka," tulisnya. "Saya masuk membawa banyak senjata dan tidak ada satu orang pun di sana yang menganggap saya sebagai ancaman."
Insiden ini memicu pertanyaan besar mengenai keamanan pejabat tinggi AS. Pelaku diketahui melakukan perjalanan darat menggunakan kereta api dari Los Angeles ke Chicago, lalu ke Washington, tanpa harus melewati detektor logam layaknya di bandara.
Trump menggunakan momentum ini untuk mempromosikan aula baru di Gedung Putih sebagai alternatif tempat acara yang lebih aman. "Gedung itu memiliki fitur keamanan tingkat tertinggi... berada di dalam gerbang bangunan paling aman di dunia, Gedung Putih," tulis Trump di Truth Social.
Pihak berwenang menyatakan Allen melepaskan tembakan menggunakan shotgun ke arah agen Secret Service di pos pemeriksaan keamanan sebelum akhirnya dilumpuhkan.
Saat kejadian, Trump, Ibu Negara Melania Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan jajaran kabinet langsung dilarikan keluar ruangan. Beruntung, agen yang tertembak tidak mengalami luka serius karena peluru tertahan oleh rompi pelindung.
Allen akan mulai diadili di pengadilan federal pada Senin (27/4) dengan dakwaan penyerangan terhadap petugas federal, penggunaan senjata api, dan percobaan pembunuhan. Jaksa Agung Todd Blanche menyatakan belum mengetahui apakah ada keterkaitan pihak luar seperti Iran dalam serangan ini.
(del)

























