Dalam kondisi tekanan likuiditas atau peningkatan penarikan dana nasabah secara mendadak, bank dengan LDR tinggi cenderung memiliki ruang yang lebih terbatas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek tanpa melakukan penyesuaian pendanaan tambahan. Kondisi likuiditas ini perlu dicermati terutama di tengah tingginya ekspansi kredit BTN.
Meski demikian, tingginya LDR BTN masih ditopang sejumlah indikator fundamental lain yang relatif kuat. Pertumbuhan dana pihak ketiga BTN masih naik 9,9% secara tahunan pada kuartal I-2026, relatif sejalan dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 10,3%.
| Bank Himbara | LDR | Banking Ratio | CAR | |||
| FY 2025 | Q1 2026 | FY 2025 | Q1 2026 | FY 2025 | Q1 2026 | |
| BRI* | 91,96% | 71,2% | 21,06% | |||
| Bank Mandiri | 87,6% | 90,9% | 67,0% | 66,4% | 20,4% | 19,7% |
| BNI* | 86,4% | 66,8% | 20,7% | |||
| BTN | 91,6% | 94,8% | 75,9% | 77,4% | 20,9% | 20,6% |
Selain itu, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) BTN masih berada di level 20,6%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Banking ratio BTN sebesar 77,4% juga menunjukkan masih terdapat porsi aset non-kredit yang dapat menjadi bantalan likuiditas.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. masih mencatatkan profil likuiditas yang relatif terjaga. Pada kuartal I-2026, LDR Bank Mandiri berada di level 90,9%, masih berada di bawah batas atas kisaran ideal Bank Indonesia.
Banking ratio Bank Mandiri juga tercatat sebesar 66,4%, menunjukkan porsi aset yang ditempatkan dalam kredit masih relatif moderat dibanding total aset perseroan.
Di sisi lain, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) Bank Mandiri masih berada di level 19,7% pada kuartal I-2026.
Tingkat permodalan tersebut menunjukkan bank masih memiliki bantalan modal yang kuat untuk menyerap potensi risiko dan menjaga stabilitas likuiditas di tengah ketatnya kondisi pendanaan perbankan.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI juga mencatatkan LDR yang relatif tinggi yakni sebesar 91,96% pada akhir 2025. Meski mendekati batas atas kisaran ideal regulator, banking ratio BRI masih berada di level 71,2%, yang menunjukkan tidak seluruh aset perseroan disalurkan menjadi kredit.
Selain itu, BRI juga memiliki CAR sebesar 21,06% pada akhir 2025. Rasio permodalan yang tinggi tersebut menjadi bantalan tambahan bagi perseroan untuk menjaga stabilitas operasional dan mengantisipasi potensi tekanan likuiditas jangka pendek.
Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI mencatatkan posisi likuiditas yang relatif lebih longgar dibanding bank Himbara lainnya. Pada akhir 2025, BNI membukukan LDR sebesar 86,4%, menjadi yang terendah di antara kelompok bank pelat merah.
Banking ratio BNI juga tercatat sebesar 66,8%, menunjukkan porsi aset non-kredit masih cukup besar. Di sisi permodalan, BNI memiliki CAR sebesar 20,7%, yang mengindikasikan kemampuan permodalan bank masih kuat untuk menopang stabilitas bisnis dan menghadapi potensi tekanan likuiditas.
(ell)






























