Logo Bloomberg Technoz

“Alokasi modal yang lebih rinci, termasuk fokus investasi, akan disampaikan setelah proses strategy review selesai,” kata dia.

Sebelumnya, Astra tengah melakukan kajian ulang atas seluruh portofolio bisnisnya secara strategis.

Manuver itu diambil seiring dengan dinamika ekonomi global dan domestik yang menekan sejumlah sektor pada 2025 dan awal tahun ini.

Apalagi, konglomerasi bisnis Astra membentang dari otomotif, jasa keuangan, alat berat, agrinisnis, energi, infrastruktur hingga teknologi informasi.

Manajemen ASII menegaskan bahwa arah bisnis perusahaan ke depan akan seimbang antara penguatan tujuh lini usaha inti dan pengembangan pilar baru.

Tujuh bisnis inti yang menopang laba perusahaan selama ini meliputi otomotif dan mobilitas, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, energi dan konstruksi, agribisnis, teknologi informasi, serta infrastruktur dan properti.

Logo Toyota pada salah satu gerai penjualan mobil milik Astra International. (Dok NG SWAN TI/Bloomberg)

Di luar itu, Astra juga menyiapkan tiga pilar baru yang dinilai prospektif untuk jangka panjang, yakni infrastruktur, kesehatan, dan mineral.

Sejumlah langkah sudah ditempuh, antara lain investasi di rumah sakit Hermina dan Halodoc untuk sektor kesehatan, masuk ke komoditas emas dan nikel di mineral, hingga pembangunan jalan tol, gudang logistik modern, dan pusat data di sektor infrastruktur.

“Selama sektor tersebut punya prospek menjanjikan serta membuka peluang sinergi dengan bisnis Astra yang ada, maka akan kami pertimbangkan untuk investasi lebih lanjut,” kata Presiden Direktur ASII, Rudy.

Diversifikasi bisnis juga tengah digarap oleh PT United Tractors Tbk (UNTR), anak usaha Astra yang bergerak di sektor alat berat dan pertambangan.

Perusahaan ini telah merambah ke dua komoditas mineral, yakni emas dan nikel, melalui akuisisi sejumlah entitas.

Manajemen menyebutkan bahwa ke depan United Tractors masih akan mencari peluang di komoditas lain, khususnya tembaga. Komoditas ini dinilai memiliki keterkaitan erat dengan emas dan berpotensi menjadi fokus baru.

Laba 2025

ASII mencatatkan laba bersih sebesar Rp32,76 triliun sepanjang 2025. Torehan laba bersih itu susut 3,34% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar RP33,9 triliun.

Adapun, pendapatan bersih konsolidasian grup sepanjang 2025 mencapai Rp323,4 triliun, susut 2% dibandingkan dengan tahun buku 2024.

Koreksi pendapatan itu disebabkan karena penurunan kontribusi dari bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta bisnis mobil baru, yang diimbangi oleh kinerja yang lebih baik dari bisnis pertambangan emas, jasa keuangan dan bisnis sepeda motor.

Mengutip laporan keuangan perseroan, beban pokok pendapatan ASII ikut susut ke level Rp251,94 triliun, dari posisi beban tahun sebelumnya sebesar Rp255,42 triliun.

Nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2025 naik sebesar 8% menjadi Rp5.692.

Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, menurun dibandingkan Rp8,0 triliun pada 31 Desember 2024.

Utang bersih anak perusahaan jasa kuangan grup mencapai Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025, meningkat dibandingkan Rp60,2 triliun pada 31 Desember 2024.

(naw)

No more pages