Dia menyatakan tak sulit untuk mencari LPG 12 Kg. Dia membeli LPG nonsubsidi tersebut di pengecer resmi tak jauh dari rumahnya.
“Beli [LPG 12 Kg] terakhir awal bulan ini, [seharga] Rp210.000 [per tabung]. Masih normal kok, masih diantar ke rumah kaya biasa,” kata Dwi ketika berbincang dengan Bloomberg Technoz, Rabu (15/4/2026).
Musyarofah (56 tahun) menyatakan menggunakan LPG 12 Kg untuk kebutuhan rumah tangga. Dia mengaku terakhir membeli LPG nonsubsidi sebelum Ramadan 2026 seharga Rp225.000 per kg.
Meskipun belum mengetahui harga LPG terkini, dia berharap pemerintah dapat menjaga kestabilan harga LPG 12 Kg, sebab produk tersebut digunakan sehari-hari untuk kebutuhan memasak.
“Saya sebagai ibu rumah tangga berharap pemerintah dapat menjaga kestabilan harga gas 12 kg agar tetap terjangkau bagi masyarakat. Gas merupakan kebutuhan pokok sehari-hari untuk memasak, sehingga kenaikan harga sangat memengaruhi pengeluaran keluarga,” kata Musyarofah ketika berbincang dengan Bloomberg Technoz, Rabu (15/4/2026).
Respons ESDM
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan stok LPG nasional dalam kondisi terjaga. Dia mencatat stok LPG per Selasa (14/4/2026) berada di sekitar 11 hari.
Adapun, stok minimum LPG nasional yang ditetapkan ESDM berada di sekitar 11,4 hari.
Laode mengatakan bahwa penyebab kelangkaan produk migas umumnya terjadi gegara aktivitas panic buying atau pembelian dalam jumlah besar dalam satu waktu. Lalu, kelangkaan juga dapat terjadi gegara gangguan transportasi dan bencana alam.
“Stok per jenis komoditas berbeda beda tapi semua dalam kondisi aman. Khusus untuk LPG data kemarin stok 11 hari,” kata Laode kepada Bloomberg Technoz, Rabu (15/4/2026) malam.
“Kami mengimbau menggunakan bahan bakar secara wajar dan bijak, tidak panic buying,” tegas Laode.
Di sisi lain, dia menyatakan kontrak pembelian LPG Indonesia dari luar negeri dalam kondisi terjaga. Laode juga memastikan pemerintah terus berupaya mendatangkan pasokan LPG dari berbagai sumber dalam waktu cepat.
“Kontrak aman, dan kita tidak berhenti hunting semua sumber yang memungkinkan dan cepat,” ujar Laode.
Respons Pertamina
Dihubungi terpisah, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menegaskan stok LPG perseroan terus dijaga agar dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.
Roberth juga mengimbau agar masyarakat dapat menggunakan komoditas energi secara bijak dan melaksanakan penghematan energi.
“Kalau dari Pertamina stok kita jaga agar cukup dan Gerakan Hemat Energi terus digaungkan,” ungkap Roberth ketika dihubungi, Rabu (15/4/2026) malam.
Sekadar informasi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia sempat mengalami kendala LPG, tetapi kondisi tersebut diklaim sudah berhasil diatasi sejak 4 April 2026.
Bahlil menjelaskan saat ini stok LPG nasional sudah berada di atas 10 hari. Dia juga menyatakan sejumlah kargo LPG tambahan bakal segera tiba di RI dalam waktu dekat.
“Menyangkut LPG, ini teman-teman media saya menyampaikan bahwa masa sulit kita untuk LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4. Alhamdulillah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari. Sebentar lagi kapal kita masuk,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, baru-baru ini.
Dalam perkembangannya, Ditjen Migas Kementerian ESDM menginstruksikan kilang LPG swasta untuk mengalihkan penjualan LPG industri menjadi dijual ke PT Pertamina Patra Niaga.
Nantinya, LPG yang dijual ke PPN tersebut bakal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan data Ditjen Migas, kebutuhan LPG sepanjang Januari—Februari 2026 mencapai 26.000 metrik ton per hari.
Secara keseluruhan, sepanjang periode tersebut kebutuhan LPG mencapai 1,56 juta metrik ton. Dari besaran itu, sekitar 1,31 juta ton atau 83,97% pasokan LPG didapatkan dari impor dan produksi dalam negeri hanya sebesar 130.000 metrik ton.
Berdasarkan negaranya, impor LPG yang dilakukan Indonesia sampai 1 April 2026 mayoritas didatangkan dari Amerika Serikat (AS), dengan porsi sebesar 68,91% dari total impor.
Posisi kedua, ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi impor sebesar 11,83% dari total impor. Berikutnya, merupakan Arab Saudi dengan total impor sebesar 7,36% dari total impor.
Keempat, Qatar dengan porsi impor 5,21% dari total impor. Lalu, Australia dengan porsi impor 3,81% dari total impor. Selanjutnya, 2,61% impor LPG didatangkan dari Kuwait.
(azr/ros)






























