“Jadi pada 2025 ini kami fokus pada peningkatan produksi, efisiensi operasional dan penguatan fundamental bisnis termasuk dengan penambahan-penambahan proyek-proyek baru. Hasilnya alhamdulillah kita bisa menjaga stabilitas operasional di tengah volatilitas global. Ini menjadi dasar kuat untuk ekspansi kita ke depannya,” kata Direktur Utama Inalum Melati Sarnita dalam RDP di Komisi XII DPR, dikutip Selasa (14/4/2026).
Dalam kesempatan itu, Melati mengungkapkan pendapatan perseroan pada 2025 mencapai US$785,7 juta, naik sekitar 10% dari pendapatan 2024 sebesar US$717,0 juta.
Sejalan dengan itu, total biaya juga meningkat menjadi US$616,1 juta, atau naik sekitar 7% dibandingkan dengan US$575,4 juta pada tahun sebelumnya.
Dari sisi profitabilitas, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) melonjak menjadi US$208,8 juta atau tumbuh sekitar 60% dari US$130,2 juta pada 2024.
Sementara itu, laba bersih Inalum pada 2025 naik menjadi US$142,8 juta, atau naik sekitar 15% dibandingkan dengan US$123,7 juta pada tahun sebelumnya.
Selanjutnya, margin laba bersih meningkat dari 17,3% menjadi 18,2% pada 2025. Return on asset (ROA) naik dari 5% menjadi 6% pada 2025, sedangkan return on equity (ROE) juga meningkat dari 6,2% menjadi 7% pada 2025.
“Kunci untuk pertumbuhan utama kami sendiri kami yakin pastinya pasokan jangka panjang, peningkatan kualitas produk, efisiensi rantai pasok, penguatan hubungan pelanggan dan kerja sama strategis jangka panjang,” tutur Melati.
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek smelter Inalum di Mempawah pada Februari.
Menurut perhitungan Danantara, total investasi untuk pembangunan smelter aluminium itu mencapai US$2,4 miliar atau sekitar Rp40,21 triliun.
Sementara itu, kebutuhan investasi untuk smelter grade alumina refinery (SGAR) Fase 2 di Mempawah mencapai US$890 juta atau sekitar Rp14,9 triliun.
Adapun, rantai pasok pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina-aluminium terintegrasi tersebut memiliki kapasitas pengolahan mencapai 3 juta ton bauksit menjadi 1 juta ton alumina per tahun. Lalu, 1 juta ton alumina tersebut bakal diolah menjadi 600.000 ton aluminium.
Lewat proyek itu, kapasitas produksi alumina domestik bakal meningkat menjadi 2 juta ton per tahun dengan bijih bauksit yang terserap sebesar 6 juta ton per tahun.
Direktur Utama MIND ID Maroef memastikan bauksit yang dipasok ke proyek milik Inalum tersebut berasal dari tambang Antam di Mempawah dan Landak.
“Sehingga kapasitas produksi alumina domestik akan meningkat menjadi 2 juta ton per tahun dengan penyerapan bijih bauksit sebesar 6 juta ton per tahun,” kata Maroef dalam Groundbreaking 6 Proyek Hilirisasi, disaksikan di Wisma Danantara, Jumat (6/2/2026).
(azr/wdh)




























