Perkembangan di Timur Tengah kembali menjadi beban bagi harga emas. Setelah tensi mereda karena Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran (dan membuat harga emas naik dua hari berturut-turut), ternyata bara konflik masih memercik.
Mohammad-Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, menegaskan bahwa AS telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. Ini membuat pembicaraan lebih lanjut menjadi sulit dilakukan.
“Gencatan senjata secara bilateral atau negosiasi tidak beralasan. Dasar dari negosiasi itu secara terbuka dan jelas-jelas sudah dilanggar, bahkan sebelum negosiasi dimulai,” cuit Ghalibaf dalam unggahan di X.
Hal yang dimaksud oleh Ghalibaf adalah Israel yang masih melakukan serangan. Pasukan Negeri Bintang Daud masih menggempur Lebanon, untuk melawan kelompok Hezbollah.
Iran menganggap ini sebagai sebuah pelanggaran gencatan senjata. Akibatnya, Teheran kembali melanjutkan serangan ke negara-negara tetangga yang memiliki basis militer AS.
“Kebangkitan harga emas terlihat rapuh dalam waktu dekat. Emas masih membutuhkan pijakan yang lebih kuat,” sebut riset Standard Chartered Plc.
Situasi yang kembali memanas di Timur Tengah membuat harga minyak dunia kembali menguat. Pada pukul 08:13 WIB, harga minyak jenis brent melesat 3% ke US$ 97,53/barel.
Lonjakan harga minyak akan kembali membuat risiko inflasi menghantui perekonomian dunia. Saat harga energi makin mahal, maka sulit bagi bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)






























