Selain itu, ekspor ke India dan Eropa masing-masing naik tipis ke level US$3,11 miliar dan US$2,85 miliar.
Hanya saja, ekspor nonmigas Indonesia ke negara Asean justru susut 3,71% ke level US$8,62 miliar pada awal tahun ini.
Adapun, Indonesia mencatat nilai ekspor Februari 2026 mencapai mencapai US$22,17 miliar, atau meningkat 1,01% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibanding Februari 2025.
Laporan tersebut berbeda dari perkiraan para ekonom. Konsensus Bloomberg yang melibatkan sejumlah analis/ekonom memperkirakan median proyeksi pertumbuhan ekspor Indonesia pada Februari meningkat 4,08% yoy.
Ateng Hartono menyebutkan nilai ekspor migas tercatat US$1,08 miliar atau turun 4,25%, sedangkan nilai ekspor non-migas naik 1,3% dengan nilai US$21,09 miliar yoy.
“Komoditas terutama lemak dan minyak hewan/nabati naik cukup tinggi 16,19%. Ini memberikan andil terhadap peningkatan total ekspor sebesar 2,17% terhadap peningkatan total ekspor,” ujar Ateng.
Kemudian, lanjut dia, nikel dan barang daripadanya naik 74,84% dengan andil 1,84%. Ketiga, mesin dan perlengkapan elektrik dan bagiannya naik 28,43% dengan andil 1,21%.
(naw)





























