Sepanjang bulan lalu, harga emas dunia di pasar spot jatuh sekira 12%. Ini menjadi koreksi bulanan terdalam sejak 2008.
Perang di Timur Tengah membuat harga emas ‘babak belur’. Konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran meletus sejak akhir Februari dan belum ada titik temu untuk berdamai.
Perang ini membuat harga minyak membumbung tinggi. Dalam sebulan terakhir, harga minyak jenis brent meroket 43,38%.
Alhasil, dunia dihantui risiko kenaikan harga energi. Inflasi diperkirakan akan melonjak sehingga membuat ban sentral di berbagai negara kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Prospek penurunan suku bunga acuan yang makin samar-samar membuat emas jadi kurang menarik. Sebab, emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) yang bersinar kala suku bunga rendah.
(aji)



























