Logo Bloomberg Technoz

"Tahun lalu CPO kita turun sekitar 16%, batu bara juga sekitar 19%. Sekarang harga komoditas keduanya tahun ini kan mulai naik. Artinya kalau naik berarti ya nilai ekspor kita pasti meningkat," tutur dia.

Hanya saja, Busan menggarisbawahi pemerintah tetap melakukan berbagai upaya mitigasi dalam mempertahankan kinerja ekspor lewat kenaikan harga komoditas dan juga diversifikasi pasar lewat business matching.

Sepanjang tahun lalu, kata dia, ekspor dalam negeri ke kawasan Timur Tengah tercatat mencapai sekitar US$9,87 miliar atau mengambil porsi 3,49% dari total ekspor. Negara terbesar adalah Uni Emirat Arab (UEA) yang mengambil porsi sekitar 40%. Sementara itu, Arab Saudi mengambil porsi sekitar 29%. Lalu, ekspor ke Iran hanya sebesar 2,5% atau setara sekitar US$250 juta.

"Kenapa UEA paling tinggi? Karena kita punya CEPA [Comprehensive Economic Partnership Agreement/ Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif]. Ini kesempatan buat kita kita bagaimana kita harus mempunyai daya saing dan harus efisien, khususnya logistik," kata dia.

"Kita diskusi dengan Depalindo [Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia] bahwa memang kita harus membenahi logistik kita supaya berdaya saing, tidak mahal dan efisien. Ini salah satu kesempatan buat kita untuk membenahi baik dari sisi regulasi atau kebijakan."

Sebelumnya, Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mengkhawatirkan eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk wilayah udara Iran, berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik nasional hingga 100% apabila berlangsung lebih dari dua pekan.

Ketua Umum ALI Mahendra Rianto menjelaskan, konflik tersebut membuat maskapai penerbangan enggan melintasi jalur udara di atas Iran dan sekitarnya, sehingga berdampak langsung pada pengiriman kargo udara dari Indonesia ke Timur Tengah dan Eropa.

"Kalau dia berkelanjutan lebih dari dua minggu, biaya logistik naik 50 sampai 100% dibandingkan [tarif di hari] normal,” ujar Mahendra saat dihubungi, Selasa (2/3/2026) lalu.

Mahendra mengatakan sebagian besar pengiriman logistik yang berasal dari dalam negeri selama ini mengandalkan hub di kawasan Timur Tengah seperti Dubai dan Qatar. 

Namun, akibat situasi tersebut, seluruh rute yang melewati wilayah itu dihentikan sementara. Kondisi tersebut, kata dia, berdampak pada pelanggan ekspor, khususnya dari wilayah Bali yang mayoritas menggunakan jalur udara.

“Bali itu lebih udara, udara hold semua, yang ke arah Middle East hold. Bahkan yang ke Moskow ya lewat Bali, itu pun di-hold,” tutur dia.

(ain)

No more pages