Selain itu, emiten afiliasi Prajogo Pangestu itu juga melaporkan kemajuan eksplorasi di prospek Gunung Hamiding.
Perseroan telah menyelesaikan dua sumur eksplorasi pada Desember 2025 yang mengonfirmasi potensi sumber daya listrik panas bumi sekitar 55 MW hingga 60 MW.
Konfirmasi ini memperkuat pipeline pengembangan BREN ke depan, sekaligus membuka ruang tambahan kapasitas baru di luar aset operasional saat ini.
Secara finansial, BREN membukukan pendapatan sebesar US$605 juta pada 2025, naik 1,4% yoy dibandingkan US$597 juta pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini ditopang oleh produksi listrik panas bumi yang stabil, meski segmen pembangkit listrik tenaga bayu menghadapi tekanan.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA tercatat US$518 juta dengan margin tetap tinggi di level 85,6%, mencerminkan efisiensi operasional yang terjaga.
Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$132,19 juta atau sekitar Rp2,2 triliun, tumbuh 8,26% yoy.
Kenaikan laba ini didukung oleh kombinasi stabilitas produksi panas bumi dan penurunan beban bunga setelah optimalisasi struktur utang.
Ke depan, BREN menargetkan ekspansi lanjutan melalui pengembangan Salak Unit 7 dan Wayang Windu Unit 3 yang dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir 2026.
Dengan tambahan proyek tersebut, kapasitas panas bumi perseroan diproyeksikan melampaui 1 gigawatt (GW), memperkuat posisi BREN sebagai salah satu pemain utama energi terbarukan di Indonesia.
Seiring dengan itu, keberhasilan eksplorasi di Gunung Hamiding menjadi katalis tambahan yang dapat mempercepat pertumbuhan kapasitas dalam jangka menengah.
Prospek Saham
Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini, menyoroti keberhasilan BREN yang telah menyelesaikan tahap eksplorasi di Lapangan Hamiding, Halmahera Utara.
Hasil eksplorasi tersebut mengonfirmasi potensi kapasitas listrik sebesar 55–60 MW, setara dengan 6% dari kapasitas terpasang BREN saat ini.
Pencapaian strategis ini sekaligus menandai dimulainya pengembangan Lapangan Hamiding, yang memiliki potensi kapasitas total mencapai 275–550 MW.
Hasil kinerja tersebut bisa menjadi cerminan perjalanan menuju tiga kali lipat kapasitas (2,8 GW) yang membuat visibilitas arus kas yang kuat dan ketahanan laba Perseroan.
Pengembangan Lapangan Hamiding, lanjut Andreas, menandai awal ekspansi perusahaan ke proyek–proyek greenfield. Kapasitas terpasang diperkirakan meningkat dari 961 MW pada 2024 menjadi 2,8 GW pada 2032 mendatang, sehingga memposisikan perusahaan sebagai pusat energi hijau regional.
“Pertumbuhan ini terutama didorong oleh proyek panas bumi Suoh Sekincau dan Hamiding, serta dilengkapi oleh ekspansi bertahap pada pembangkit listrik tenaga angin,” papar Analis Sucor Sekuritas dalam risetnya.
Dampak positif diproyeksikan mampu mencatat CAGR laba sebesar 28% bagi emiten BREN selama delapan tahun ke depan, dengan potensi laba mencapai US$810 juta pada 2033.
Saham BREN dipandang amat menarik sejalan dengan prospek pertumbuhan, proyeksi ini terutama didorong oleh pertumbuhan kapasitas dengan CAGR mencapai 17%, serta asumsi tarif yang lebih tinggi dari potensi ekspor yang telah dimasukkan dalam base case (rata-rata US$0,13/kWh).
Berdasarkan sentimen dan katalis tersebut, Analis Sucor Sekuritas tegas mempertahankan rekomendasi buy, beli saham BREN dengan target harga mencapai Rp19.800/saham.
Analis menilai BREN menarik berkat kombinasi ekspansi kapasitas hingga tiga kali lipat, visibilitas laba yang solid, serta kemampuan menghasilkan arus kas yang tangguh.
Target harga (Target Price/TP) yang amat menarik mencapai Rp19.800/saham dapat tercapai mengingat prospek pasar bullish jangka panjang dan adanya tahap eksplorasi menuju pertumbuhan berskala lebih besar jadi katalis strategis yang akan mendorong harga saham BREN.
(fik/naw)






























