Kondisi dehidrasi berat akibat kehilangan cairan secara signifikan juga dapat memicu gangguan ginjal akut. Di sisi lain, suhu panas berlebih dapat meningkatkan beban kerja jantung, memperburuk penyakit kardiovaskular dan diabetes, serta memicu gangguan kulit seperti ruam panas hingga meningkatkan risiko kanker kulit.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta menekankan bahwa suhu tinggi memiliki dampak langsung terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lanjut usia, anak-anak, dan pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Terkait pola konsumsi selama cuaca panas, masyarakat diimbau untuk memperhatikan kecukupan cairan, khususnya saat menjalankan ibadah puasa. Air putih tetap menjadi pilihan utama karena mudah diserap tubuh dan aman dikonsumsi.
Selain itu, larutan rehidrasi oral atau oralit dapat dimanfaatkan untuk menggantikan elektrolit yang hilang, terutama pada kondisi dehidrasi sedang hingga berat. Pilihan lain yang dapat dikonsumsi adalah air kelapa yang mengandung elektrolit alami, serta minuman isotonik yang mengandung elektrolit dan sedikit gula untuk membantu memulihkan energi setelah aktivitas.
“Jus buah tanpa tambahan gula juga dapat menjadi pilihan karena mengandung air dan vitamin yang membantu hidrasi ringan,” tandasnya.
Untuk mencegah dampak kesehatan akibat paparan panas, masyarakat disarankan membatasi aktivitas di bawah terik matahari, khususnya pada pukul 10.00 hingga 14.00, serta menggunakan pelindung seperti topi atau payung saat berada di luar ruangan.
Penggunaan pakaian berbahan ringan dan longgar juga dianjurkan agar tubuh tetap nyaman. Selain itu, pemakaian tabir surya dengan minimal SPF 30 pada bagian kulit yang terbuka perlu dilakukan sebelum beraktivitas di luar.
Kebutuhan cairan harian juga harus terpenuhi dengan mengonsumsi air putih setidaknya dua liter per hari, ditambah konsumsi buah segar yang kaya kandungan air. Cairan yang hilang selama beraktivitas juga sebaiknya digantikan dengan minuman berelektrolit guna menjaga keseimbangan tubuh.
(ell)
































