Perang ini telah menciptakan kekacauan di seluruh Timur Tengah, melumpuhkan pelayaran di Selat Hormuz, dan memangkas drastis produksi minyak serta gas. Hingga saat ini, industri hulu energi Iran sebagian besar masih terhindar dari kerusakan, namun situasi berubah drastis pada hari Rabu.
Teheran memperingatkan akan adanya balasan segera terhadap aset penyulingan, petrokimia, dan gas alam di kawasan tersebut setelah ladang gas raksasa South Pars milik mereka dihantam serangan. Tom Marzec-Manser, Direktur Gas Eropa dan LNG di Wood Mackenzie Ltd, menilai kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar akan lambatnya pemulihan produksi saat konflik berakhir nanti.
"Kemungkinan kerusakan pada output kini telah meningkat," ujarnya. "Bahkan setelah Selat Hormuz dibuka kembali, pemulihan aliran energi untuk kembali normal bisa memakan waktu jauh lebih lama."
Konflik yang pecah sejak akhir Februari ini telah melumpuhkan pasokan dari Timur Tengah secara signifikan dibandingkan wilayah lain di dunia. Hal ini mendorong beberapa harga minyak regional melonjak di atas US$150 per barel. Sebaliknya, kontrak berjangka AS ditutup mendekati US$96, sebagian teredam oleh ekspektasi pelepasan cadangan darurat.
Dampak nyata dari perang ini adalah penurunan besar-besaran produksi minyak di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak. Di sisi lain, Qatar terpaksa menghentikan seluruh operasional di kilang LNG terbesarnya.
Ladang gas South Pars milik Iran sendiri memegang peran krusial bagi pasokan domestik serta ekspor ke Irak dan Turki. Fasilitas petrokimia di Asaluyeh yang terkait dengan ladang tersebut juga turut menjadi sasaran serangan.
Daftar Aset
Serangan terhadap South Pars menjadi yang pertama terhadap fasilitas hulu Iran sejak perang dimulai. Meski AS menyerang pusat ekspor minyak di Pulau Kharg pada akhir pekan lalu, serangan tersebut dibatasi pada target militer.
“Serangan baru kembali mengingatkan pada realitas pasokan fisik dalam perang—pembatasan energi semakin mengetat setiap hari,” kata Florence Schmit, ahli strategi energi Rabobank.
Fasilitas yang disebutkan Iran, yang seluruhnya memiliki keterkaitan dengan kepentingan AS, meliputi:
- Kilang Ras Laffan dan kompleks petrokimia Mesaieed di Qatar
- Kilang Samref dan kompleks petrokimia Jubail di Arab Saudi
- Aset gas Al Hosn di Uni Emirat Arab
Saudi Aramco dilaporkan mengevakuasi fasilitas Samref dan Jubail sebagai langkah pencegahan setelah daftar tersebut dirilis Iran, menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut.
Sejumlah lokasi lain yang diidentifikasi Iran juga tengah dievakuasi, termasuk aset gas Al Hosn serta kilang Ras Laffan dan kompleks petrokimia Mesaieed di Qatar, menurut sumber terpisah.
Juru bicara Adnoc dan Aramco menolak berkomentar. Sementara itu, juru bicara QatarEnergy belum dapat memberikan tanggapan.
Al Hosn merupakan nama lama dari usaha patungan yang mengoperasikan ladang Shah di Uni Emirat Arab. Adnoc sebelumnya telah menghentikan operasi di Shah setelah ladang tersebut diserang drone yang memicu kebakaran pada Senin malam.
South Pars adalah ladang gas terbesar Iran yang mencatat rekor produksi harian 730 juta meter kubik pada 2025, menurut kantor berita resmi kementerian minyak Iran, Shana. Jumlah tersebut setara dengan sekitar setengah konsumsi rata-rata seluruh Eropa tahun lalu.
Turki mengimpor lebih dari 10% kebutuhan gasnya dari Iran, dan kemungkinan perlu meningkatkan pembelian LNG spot untuk menggantikan pasokan yang hilang, yang pada gilirannya dapat memperketat persaingan global atas bahan bakar tersebut. Irak juga melaporkan bahwa aliran gas dari Iran telah terhenti, menurut kantor berita setempat.
(bbn)




























