Dalam kesempatan yang sama, Powell untuk pertama kalinya menyatakan rencana untuk tetap bertahan di bank sentral hingga investigasi Departemen Kehakiman (DOJ) selesai. Di internal The Fed, Gubernur Stephen Miran menjadi satu-satunya yang menolak keputusan tersebut dan tetap mendesak pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.
"Bank sentral biasanya mengabaikan volatilitas harga minyak jangka pendek karena meski bisa menaikkan harga barang dan jasa, hal itu juga cenderung menjadi 'rem' bagi ekonomi yang meredam dampak inflasi," ujar Lindsay James, ahli strategi investasi di Quilter. Namun, ia mencatat bahwa ketidakpastian dari guncangan rantai pasok membuat The Fed tidak bisa mengabaikan risiko inflasi begitu saja.
Data terbaru yang dirilis Rabu pagi menunjukkan inflasi tingkat produsen mengalami akselerasi. Indeks Harga Produsen (IHP) naik di luar dugaan, sebuah sinyal bahwa tekanan biaya sudah meningkat bahkan sebelum konflik pecah.
Guna memerangi kenaikan harga energi, Presiden Donald Trump untuk sementara waktu mengizinkan kapal berbendera asing mengangkut minyak dan komoditas lainnya antar-pelabuhan di AS. Sementara itu, Arab Saudi telah memulihkan separuh ekspor minyaknya dengan jalur yang menghindari Selat Hormuz. Jalur perdagangan vital tersebut tampaknya sulit dibuka kembali tanpa adanya gencatan senjata, meskipun Iran dilaporkan tetap memindahkan minyaknya sendiri melalui selat itu dengan volume yang relatif stabil dibandingkan sebelum perang.
Di sisi lain, analis Bank of America membela manajer aset seperti Ares Management Corp, dengan menyebut bahwa aksi jual pada perusahaan-perusahaan yang terkait dengan kredit swasta merupakan reaksi berlebihan. Namun, Presiden Pacific Investment Management Co (Pimco), Christian Stracke, justru menyatakan pihaknya menjauh dari pinjaman yang dijual di tengah kemelut pasar kredit swasta saat ini.
(bbn)


























