Seiring berlarutnya konflik, Iran tampak lebih mengandalkan drone dibandingkan rudal. Meski drone umumnya membawa muatan hulu ledak yang lebih kecil daripada rudal balistik atau jelajah dan menghasilkan daya hancur yang lebih rendah, senjata ini tetap mampu menimbulkan kerusakan signifikan tergantung pada targetnya. Biaya produksinya yang relatif murah serta kemampuannya untuk diluncurkan dalam jumlah besar menjadi tantangan berat bagi sistem pertahanan udara mana pun.
Walaupun frekuensi peluncuran sempat menurun di awal perang, hal itu bukan berarti Teheran kehabisan stok senjata. Meski AS dan Israel terus menggempur gudang penyimpanan, peluncur, hingga pabrik drone, Iran terbukti masih mampu mempertahankan intensitas serangannya.
Analis dari Bloomberg Economics, Becca Wasser, menilai bahwa skala serangan yang lebih kecil namun dengan tempo yang stabil menunjukkan adanya rekalibrasi strategi, bukan karena penipisan amunisi.
Pada hari Selasa, Arab Saudi melaporkan adanya 35 serangan drone tambahan, meski angka tersebut diperkirakan masih bisa bertambah. Di saat yang sama, serangan Iran ke Uni Emirat Arab (UEA) juga meningkat. Kementerian Pertahanan UEA menyatakan telah mendeteksi 55 proyektil—terdiri dari 10 rudal balistik dan 45 drone—yang merupakan jumlah drone tertinggi yang tercatat sejak 8 Maret lalu.
(bbn)




























