Dia menegaskan saat ini Kementerian Keuangan akan menunda sejumlah usulan program tambahan oleh K/L terkait. Pemerintah akan fokus terhadap sejumlah program pemerintah yang ada saat ini.
“Jadi ada kan beberapa program tambahan ada kan anggaran tambahan-tambahan yang membuat menggelembung sekali. Yang anggaran sekarang, yang pertama, kita fokus ke yang ada saja. Program tambahan kita tunda dulu sampai keadaan memungkinkan. Tapi sekarang jelas enggak mungkin,” jelas dia.
Meski demikian, Purbaya menyebut pemotongan anggaran K/L belum tentu dieksekusi. Perhitungan ini sebagai langkah awal supaya ketika diperlukan, bisa dieksekusi dengan benar.
"Kementerian Keuangan akan menentukan langkah awal bagi mereka untuk siap-siap ngitung, tetapi belum tentu eksekusi ya. Kalau mau dipotong yang mana yang mau dipotong, kira-kira gitu. Nanti mereka adjust kebijakannya berdasarkan potongan," tutur dia.
Purbaya menyebut sampai saat ini kondisi APBN masih dalam kondisi aman. Jika kenaikan harga minyak terus berlangsung dan bertahan lama, baru pemerintah akan menghitung ulang anggaran yang ada.
"Itu kan belum kelihatan sekarang, belum stabil. Jadi kita belum lihat sampai sekarang, tapi rasanya sih anggaran cukup bertahan, kecuali naiknya tinggi sekali ya," ucap Purbaya.
Purbaya menambahkan, kenaikan harga minyak dunia tidak selalu berdampak negatif terhadap fiskal. Sebab, lonjakan harga minyak biasanya juga diikuti kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia seperti batu bara dan nikel.
Karena itu, pemerintah masih menghitung dampak bersih terhadap penerimaan dan belanja negara sebelum memutuskan kebijakan lebih lanjut.
(ell)



























