Logo Bloomberg Technoz

“Bagi banyak perekonomian Teluk, perang ini berpotensi menimbulkan dampak jangka pendek yang lebih besar daripada Covid,” kata Soussa, ekonom Goldman Sachs untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

“Saat  situasi mereda, mereka akan membangun kembali dan membaik, tetapi bekas luka yang ditinggalkan konflik ini terhadap kepercayaan masih harus dilihat.”

Pandangan ini menyoroti bagaimana perang di Timur Tengah sudah memberi mimpi buruk bagi negara-negara Teluk Arab, yang menghadapi pukulan ganda berupa kerugian di sektor minyak dan non-minyak. Konflik tersebut tak menunjukkan sinyal mereda memasuki pekan ketiga, dengan Iran terus melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangganya di kawasan itu sebagai balasan atas serangan udara AS dan Israel.

AS menyerang sejumlah lokasi militer di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak mentah Iran, pada akhir pekan lalu dan memperingatkan akan menargetkan fasilitas energi jika Teheran terus mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia.

Titik lokasi kilang minyak, terminal minyak dan gas LNG di negara-negara teluk.

Minyak Brent telah tembus US$103 per barel pada Jumat di tengah penghentian lalu lintas di Selat Hormuz dan penghentian produksi minyak oleh negara-negara termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Pasar gas global juga terguncang akibat anjloknya ekspor LNG Qatar, sementara Bahrain mulai mengurangi produksi di pabrik peleburan aluminium terbesar di dunia, sebagian karena penghentian lalu lintas di Selat Hormuz.

Gangguan semacam itu, jika berlanjut, dapat menimbulkan dampak terparah bagi perekonomian minyak Qatar, Kuwait, dan Bahrain, menurut Soussa.

Situasinya lebih kompleks bagi Arab Saudi dan UEA, yang dapat mengekspor minyak mentah melalui rute alternatif dan seharusnya diuntungkan oleh lonjakan harga minyak, kata para ekonom termasuk Mohamed Abu Basha dari EFG Hermes dan Justin Alexander dari Khalij Economics.

Untuk industri non-minyak, dampaknya mungkin akan lebih luas bagi negara-negara Teluk karena segala hal mulai dari properti hingga pariwisata dan investasi bakal terpengaruh.

Arab Saudi mungkin akan menjadi yang paling kokoh dalam menghadapi perang berkepanjangan, dikatakan enam ekonom yang diwawancarai Bloomberg. Negara kerajaan tersebut terus menggagalkan sebagian besar serangan Iran, sementara wilayah udara dan kegiatan bisnis tetap beroperasi dengan gangguan yang terbatas.

Jika kondisi ini berlanjut, risiko terbesar Arab Saudi dalam jangka pendek mungkin adalah defisit fiskal kuartal pertama yang lebih dalam akibat penurunan pendapatan, menurut Monica Malik dari Abu Dhabi Commercial Bank dan Azad Zangana dari Oxford Economics.

Untuk tahun 2026, Arab Saudi boleh jadi justru akan tampil lebih baik dengan mencatatkan defisit yang lebih kecil daripada perkiraan sebelum perang — asalkan harga minyak dan ekspor tetap tinggi, kata sebagian besar ekonom yang diwawancarai Bloomberg.

Anggaran fiskal Arab Saudi.

Tim Callen, peneliti tamu di Arab Gulf States Institute di Washington, memperkirakan defisit anggaran tahunan akan menyusut sebesar 1% jika produksi minyak Arab Saudi rata-rata mencapai sekitar 7,5 juta barel per hari dan harga Brent tetap berada di kisaran $90.

Pemerintah Arab Saudi telah memperkirakan defisit sebesar 3,3% untuk tahun 2026.

Di tempat lain, UEA mungkin masih akan mencatatkan surplus anggaran untuk tahun ini, sementara defisit Qatar berpotensi melebar, menurut Abu Basha dari EFG Hermes.

Negara-negara di kawasan Teluk kemungkinan akan terus mengandalkan pasar utang untuk meringankan tekanan fiskal. Para investor obligasi belum menunjukkan kekhawatiran mengenai dampak perang terhadap keuangan regional, menurut Fady Gendy, manajer portofolio di Arqaam Capital.

“Hal itu akan menjadi masalah jika konflik terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama, yang saat ini belum tercermin dalam harga pasar.”

(bbn)

No more pages