Langkah ini muncul ketika para petani AS berlomba mengamankan pasokan pupuk pada puncak musim tanam musim semi, terutama amonia dan urea yang dahulu diekspor Venezuela dalam jumlah besar.
Konflik yang meningkat di Timur Tengah mengganggu pasokan yang biasanya mengalir melalui Selat Hormuz.
Harga urea di New Orleans—yang banyak digunakan pada ladang jagung di AS—naik 28% sejak perang terhadap Iran dimulai hingga Jumat, menurut Bloomberg Green Markets.
AS mengimpor lebih dari sepertiga kebutuhan ureanya dari Timur Tengah, menurut The Fertilizer Institute.
Dengan mengizinkan penjualan pupuk Venezuela ke perusahaan AS, pemerintahan Trump mengirimkan sinyal pasokan kepada industri yang memengaruhi harga pangan di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak yang dipicu perang.
Lisensi tersebut tetap mengharuskan perusahaan untuk memperoleh izin terpisah dari Office of Foreign Assets Control (OFAC) di Departemen Keuangan.
Selain kebijakan pupuk tersebut, Departemen Keuangan juga mengeluarkan lisensi yang memungkinkan pekerjaan pada jaringan listrik Venezuela—langkah penting untuk menghidupkan kembali sektor minyak dan industri lainnya sekaligus memperbaiki kehidupan masyarakat di seluruh negeri yang sering mengalami pemadaman listrik.
Departemen Keuangan menerapkan kebijakan pupuk itu dengan memperluas definisi minyak asal Venezuela dalam lisensi yang sudah ada.
Seperti halnya penjualan minyak Venezuela yang dikendalikan AS, pembeli dari AS diwajibkan menyetor pembayaran ke rekening luar negeri yang diblokir untuk kemudian disalurkan kepada bank sentral Venezuela.
Cadangan gas Venezuela yang melimpah dulu menjadi fondasi industri petrokimia yang berkembang pesat, dipimpin oleh perusahaan milik negara Pequiven di kompleks Jose serta dua lokasi lainnya, Morón dan El Tablazo. AS pernah menjadi salah satu pasar utama bagi pasokan Venezuela.
Namun sektor petrokimia negara itu mengalami kemunduran akibat bertahun-tahun pengabaian dan salah kelola, seperti halnya industri minyaknya.
Pequiven masih mengekspor sebagian amonia dan urea berbasis nitrogen ke Brasil dan Kolombia, tetapi dengan diskon besar dan melalui jalur yang kurang transparan.
“Diperlukan sedikit investasi dan waktu untuk mengembalikan fasilitas-fasilitas itu ke kondisi seperti dulu,” kata Josh Linville, wakil presiden pupuk di perusahaan pialang StoneX Group.
Ia menambahkan bahwa dalam jangka pendek Venezuela kemungkinan belum akan menjadi eksportir besar ke pasar AS.
Sektor minyak negara itu juga belum memiliki infrastruktur yang cukup untuk menambah aliran pasokan, kata Jeremy Paner, mitra di firma hukum internasional Hughes Hubbard & Reed yang berbasis di Washington.
Dengan menghidupkan kembali industri pupuk Venezuela, pemerintahan Trump dapat berupaya mengalihkan pasokan terutama ke pasar AS, sebagian untuk mengimbangi gangguan yang disebabkan oleh perang AS dan Israel melawan Iran.
Selain itu, langkah tersebut juga akan mengurangi ketergantungan AS pada pupuk Rusia, yang saat ini dikecualikan dari tarif dan sanksi AS.
Menurut data UN Comtrade, Venezuela mengekspor hampir 400.000 ton metrik urea ke Brasil pada 2025. Volume yang lebih kecil juga dikirim ke Kolombia dan Chile dalam beberapa tahun terakhir.
Jumlah itu masih jauh di bawah kapasitas produksi tahunan nominal negara tersebut, yakni 2,7 juta ton metrik amonia dan 3,3 juta ton metrik urea menurut data Pequiven.
Sebagian besar kapasitas itu terkonsentrasi di kompleks Jose yang dikenal sebagai Fertinitro.
Pequiven saat ini memproduksi dan mengekspor metanol melalui perusahaan patungan Metanol de Oriente SA dengan Mitsubishi Corp. dan Mitsubishi Gas Chemical Inc..
Perusahaan itu juga pernah menjadi produsen besar berbagai petrokimia lain, termasuk etilena dan propilena.
Pupuk dan produk petrokimia lainnya sebenarnya tidak pernah secara langsung menjadi target sanksi, tetapi tetap terhambat secara tidak langsung oleh upaya AS yang lebih luas untuk mengisolasi Venezuela.
(bbn)






























