Salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan biaya kemasan adalah minuman dalam kemasan, termasuk air minum dalam kemasan (AMDK).
Putu menjelaskan kenaikan harga minyak tersebut berpotensi menambah biaya logistik. Itu juga dpat membuat harga kemasan bisa jauh lebih mahal dibandingkan isi produknya akibat potensi tekanan biaya produksi kemasannya.
“Salah satu adalah di air dalam kemasan. Itu yang mahal itu adalah bukan airnya, itu kemasannya,” kata dia.
Meski demikian, pemerintah masih menghitung secara detail potensi kenaikan harga di tingkat konsumen. Saat ini, kata dia, otoritas perindustrian negara masih berkoordinasi dengan asosiasi industri terkait.
Ia menegaskan pemerintah belum bisa memperkirakan besaran kenaikan harga produk minuman kemasan karena proses penghitungan masih berlangsung.
"Kalau di sana berdampak [kenaikan harga] 10%, itu berarti ada [potensi kenaikan harga biaya logistik dan kemasan] 60%. Itu dampaknya. "Nanti kita coba ngobrol bagaimana memitigasi dan mencari solusi yang bagus."
(ain)






























