"Sumur eksplorasi Maha-4 ini sebagai penopang untuk mengatasi decline produksi di masa datang, sekaligus untuk meningkatkan produksi gas," ungkapnya.
Adapun, pengetesan produksi gas dilakukan menggunakan teknologi terbaru milik Halliburton Company, sehingga tak memerlukan pembakaran gas di platform anjungan lepas pantai.
Djoko menyatakan teknologi tersebut lebih aman dan tidak ada gas yang terbuang selama pengetesan produksi, namun memerlukan waktu yang sedikit lebih lama karena memerlukan analisis dan interpretasi.
"Status saat ini sedang dipesan peralatan long lead item yang akan dipasang di kepala sumur/platform untuk mengatasi tekanan tinggi di wellhead atau kepala sumur saat gas diproduksi agar keselamatan tetap terjaga dan anjungan lepas pantai tetap aman," kata dia.
Perampungan pengerjaan sumur untuk mengatasi tekanan yang berlebihan tersebut mengakibatkan tambahan biaya sebesar US$16 juta atau sekitar Rp271 miliar pada 2026.
Adapun, WK West Ganal dikelola oleh ENI West Ganal Limited dengan porsi kepemilikan hak partisipasi (PI) sebesar 40%. Anak usaha perusahaan migas Italia tersebut turut bertindak sebagai operator.
Selain itu, PT Pertamina Hulu West Ganal memiliki kepemilikan saham sebesar 30% dan Neptune Energy West Ganal BV menggenggam sebesar 30% PI di Blok West Ganal.
(azr/ros)





























