Logo Bloomberg Technoz

Selain memiliki makna simbolis, tradisi ini juga berkaitan dengan nilai berbagi dalam ajaran Islam. Hari raya menjadi waktu yang tepat untuk berbagi kebahagiaan dan rezeki kepada orang lain, khususnya kepada anak-anak atau anggota keluarga yang lebih muda.

Bagi sebagian keluarga, memberi uang kepada anak-anak juga menjadi bentuk perhatian dan kasih sayang. Selama dilakukan dengan niat baik dan tidak berlebihan, tradisi ini dianggap sebagai bagian dari kebiasaan positif dalam merayakan Lebaran.

Asal-usul Tradisi Salam Tempel

Tradisi membagikan uang saat Lebaran sebenarnya sudah ada sejak lama dan memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Dalam catatan sejarah, kebiasaan memberikan hadiah pada hari raya telah dilakukan sejak abad pertengahan.

Pada masa Kekhalifahan Fatimiyah di Afrika Utara, penguasa membagikan uang, pakaian, hingga makanan kepada masyarakat pada hari pertama Lebaran. Tradisi ini kemudian berlanjut pada masa Kekaisaran Ottoman dan dikenal dengan istilah eidiyah, yaitu pemberian hadiah atau uang kepada anak-anak saat Idul Fitri.

Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut mengalami perubahan. Hadiah yang sebelumnya berupa makanan, pakaian, atau permen perlahan berganti menjadi uang dalam pecahan kecil yang lebih praktis untuk dibagikan.

Di Indonesia, kebiasaan ini juga diduga mendapat pengaruh dari budaya Tionghoa yang memiliki tradisi memberikan angpau pada perayaan Tahun Baru Imlek. Meski memiliki latar budaya berbeda, keduanya sama-sama menekankan nilai berbagi kebahagiaan pada momen perayaan.

Kini, tradisi membagikan uang baru saat Lebaran telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia. Kebiasaan ini terus diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi salah satu momen yang paling dinantikan, terutama oleh anak-anak saat hari raya tiba.

(seo)

No more pages