Logo Bloomberg Technoz

Yuliot menegaskan Indonesia bakal segera mengimplementasikan biodiesel B50 dan memandatorikan bioetanol E10.

"Nanti kita akan mandatorikan. Jadi mandatori sesuai dengan ketersediaan bahan baku di dalam negeri ya mungkin nanti jadi mandatori 5, 10. Bahkan pada tahun 2028 ya kita sudah mencanangkan untuk E20," ujar Yuliot.

Lebih lanjut, Yuliot mengatakan Kementerian ESDM hingga saat ini tak memiliki rencana untuk membatasi pergerakan masyarakat demi menghemat BBM. Berkaca dari pandemi Covid-19, Yuliot memandang langkah tersebut bakal membuat ekonomi mati suri.

"Itu kalau ini ada pemotongan kegiatan itu dampaknya itu adalah terhadap penurunan kegiatan ekonomi. Jadi ya kita melakukan assessment untuk seluruh dampak-dampak ekonomi terhadap permasalahan BBM ini," tegas Yuliot.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan masih memiliki waktu hingga akhir bulan ini untuk menyiapkan mitigasi dampak kenaikan harga dan pengetatan pasokan minyak dunia terhadap cadangan BBM di Tanah Air.

Laode menyatakan jika langkah mitigasi yang disiapkan tersebut tidak maksimal, Indonesia berpotensi menghadapi situasi yang sulit pada April 2026.

"Kita masih ada waktu sampai akhir Maret. Kita masih bisa menghadapi ini, walaupun tadi pagi saya rapat di kantor sudah mulai ada April nih ada sedikit pemikiran yang harus effort, extra-effort. Karena kita menyiapkan April itu sekarang, kalau sekarang kondisi yang tidak stabil, tidak bisa kita manfaatkan, maka April ini kita menghadapi masa-masa sulit," kata Laode dalam diskusi publik Aspebindo, Rabu (11/3/2026).

Laode mengungkapkan sejumlah negara di Asia Tenggara sudah menghadapi masa sulit tersebut sumber minyak sejak Maret, sementara Indonesia diklaim sudah mengamankan seluruh pasokan BBM dan minyak mentah untuk bulan ini.

Dengan begitu, dia mengklaim Kementerian ESDM bakal melakukan usaha ekstra untuk memastikan stok komoditas energi nasional tidak menurun secara drastis dan menimbulkan masalah selepas Idulfitri.

Dalam kesempatan itu, berdasarkan bahan tayangan Laode yang ditampilkan, stok operasional BBM, avtur hingga liquified petroleum gas (LPG) milik PT Pertamina (Persero) per 9 Maret 2026 dalam kondisi terjaga atau di atas standar kecukupan nasional.

Stok Pertalite (RON 90) tercatat sebesar 2.021.505 kiloliter (Kl) dengan rencana penyaluran harian atau daily objective throughput (DOT) mencapai 81.964 kl per hari, sehingga ketahanan stok nasional atau coverage days (CD) berada di level 25,09 hari, di atas batas minimum 18,2 hari.

Untuk Pertamax (RON 92), stok nasional tercatat 622.846 Kl dengan penyaluran 24.004 kl per hari dan ketahanan stok 26,56 hari. Stok Pertamax tersebut ebih tinggi dari batas minimum 19,9 hari.

Sementara itu, Pertamax Turbo (RON 98) memiliki stok 37.959 kl dengan penyaluran 1.596 kl per hari, sehingga ketahanan stok mencapai 23,26 hari, sedikit di atas batas minimum 22,3 hari.

Lebih lanjut, pada BBM jenis Solar (CN 48), stok nasional tercatat 1.360.279 Kl dengan penyaluran harian 86.227 kl, menghasilkan ketahanan stok 16,28 hari. Stok Solar CN 48 hampir setara dengan batas minimum 16,3 hari.

Sementara itu, Pertamina Dex (CN 53) memiliki stok 83.383 kl dengan penyaluran 1.979 kl per hari dan ketahanan stok mencapai 44,43 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.

Untuk avtur, stok nasional tercatat 529.861 kl dengan penyaluran 13.998 kl per hari, sehingga ketahanan stok mencapai 38,42 hari, melampaui batas minimum 26 hari.

Adapun untuk LPG, stok nasional tercatat 297.330 metrik ton (MT) dengan penyaluran 25.887 MT per hari, menghasilkan ketahanan stok 11,51 hari, sedikit di atas batas minimum 11,4 hari.

Stok minyak tanah atau kerosene sebanyak 29.701 Kl dengan penyaluran 1.521 Kl per hari dan ketahanan stok 19,30 hari.

(azr/ros)

No more pages