Bloomberg Economics menyebut konflik berkepanjangan di Timur Tengah meningkatkan peluang harga minyak mentah mencapai US$80 per barel. Terlebih saat ini Selat Hormuz ditutup, harga minyak diproyeksikan bisa melonjak hingga US$108 per barel.
Sebab, sekitar seperlima aliran minyak global melewati jalur tersebut, menjadikan selat kecil itu menjadi titik krusial energi dunia.
Penutupan selat ini bukan hanya memicu kekhawatiran gangguan pasokan, tetapi juga menghidupkan kembali risiko inflasi global yang sebelumnya mulai mereda.
Ketika minyak melonjak, ekspektasi suku bunga global pun kembali naik, memperkuat daya tarik dolar AS dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Dalam konteks ini, agaknya pelemahan rupiah di pasar offshore menjadi sinyal awal tekanan yang lebih luas.
Pasar NDF kerap menjadi barometer sentimen global terhadap aset Indonesia, terutama ketika pelaku pasar internasional belum dapat langsung bereaksi di pasar domestik. Pergerakan yang sempat menguat tipis tetapi kemudian terkikis menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih dominan.
Jika harga minyak benar-benar menembus US$80 per barel dan bertahan tinggi, dampaknya bagi Indonesia akan berlapis. Dari sisi eksternal, kenaikan harga energi dapat memperlebar defisit transaksi berjalan jika impor migas meningkat signifikan.
Sementara dari sisi domestik, tekanan terhadap inflasi berpotensi membatasi ruang kebijakan moneter, terutama jika pelemahan rupiah berlanjut dan memicu imported inflation.
Meski responsnya cenderung lebih lambat, pasar obligasi domestik tidak kebal terhadap dinamika ini. Dalam kondisi alarm risk-off yang menyala, investor asing cenderung mengurangi eksposur pada surat utang negara berkembang, hal ini tentu akan mendorong kenaikan yield di pasar sekunder.
Kenaikan imbal hasil US Treasury akibat lonjakan inflasi global juga dapat mempersempit selisih imbal hasil (spread) yang selama ini menjadi daya tarik SUN. Jika spread menyempit, maka arus modal berisiko keluar semakin besar.
Pekan ini rupiah sepertinya akan berada dalam pusaran tekanan eksternal, antara dolar yang menguat, harga minyak yang melonjak, serta investor yang mencari perlindungan terhadap asetnya dengan berburu aset safe haven.
(dsp/aji)



























