Secara nilai, arus minyak yang melewatinya mencapai sekitar US$600 miliar per tahun. Artinya, apa pun yang terjadi di sana hampir pasti terasa hingga ke harga BBM, inflasi, dan biaya logistik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Secara geografis, Selat Hormuz memang tampak cukup lebar, sekitar 34 kilometer di pintu masuk Teluk Persia. Namun jalur pelayaran efektifnya ternyata jauh lebih sempit, hanya sekitar 3 kilometer untuk masing-masing arah.
Jalur ini menjadi satu-satunya pintu keluar ekspor minyak dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Jika terjadi gangguan, opsi alternatifnya juga sangat terbatas.
Bagi operator kapal tanker, ini berarti lonjakan laba jangka pendek. Namun bagi konsumen energi global, kenaikan harga ini jadi alarm lonjakan biaya operasional yang dapat menekan margin.
Mengapa demikian? Sebab, biaya pengiriman adalah salah satu komponen harga akhir energi. Jika ongkos sewa kapal melonjak, harga minyak mentah cenderung ikut terdorong naik. Dan ketika harga minyak naik, dampaknya berantai: biaya transportasi meningkat, harga pangan bisa terdorong, dan tekanan inflasi menguat.
Masalahnya, tidak mudah mencari jalur pengganti Selat Hormuz. Memang ada jaringan pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang bisa mengalihkan sebagian pasokan minyak tanpa melewati selat tersebut. Namun kapasitas tambahan yang bisa dialihkan melewati kawasan itu pun terbatas.
“Jaringan pipa yang tersedia pun kapasitasnya terbatas. Tambahan aliran yang bisa dialihkan tanpa melewati Selat Hormuz hanya sekitar 2,6 juta barel per hari, atau menurut estimasi US Energy Information Administration, setara dengan sekitar 13% saja dari total volume minyak yang biasa melintas di kawasan tersebut,” sebut Audrey Childe-Freeman Analis Bloomberg Intelligence dalam Laporannya, Minggu (1/3/2026).
Artinya, sekitar 66% minyak kawasan tersebut tetap tidak bisa menghindari Selat Hormuz. Dengan kata lain, jika terjadi blokade serius, dunia tidak punya banyak ruang manuver.
Terlebih saat ini dengan kematian pemimpin Iran Ali Khamenei yang terkonfirmasi, eskalasi perang diproyeksikan akan terus berlanjut.
Berkaca dari gangguan pelayaran sebelumnya yang di Laut Merah pada Desember 2023. Saat itu, serangan terhadap kapal dagang memaksa banyak perusahaan pelayaran memutar jalur lebih jauh, meningkatkan waktu tempuh dan biaya.
Jika Selat Hormuz, yang perannya jauh lebih besar bagi perdagangan energi, mengalami gangguan serupa, dampaknya bisa lebih luas.
Tidak hanya perusahaan tanker yang terdampak. Operator kontainer global pun akan merasakan efeknya, meskipun dalam tingkat yang lebih kecil. Ketidakpastian geopolitik seperti ini selalu meningkatkan premi risiko.
Perusahaan asuransi menaikkan tarif, pelayaran memperketat protokol keamanan, dan sebagian operator bahkan menunda atau menghentikan pelayaran sementara melalui kawasan berisiko tinggi.
Bagi negara-negara importir energi, termasuk banyak negara Asia, perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian serius. Stabilitas pasokan energi adalah fondasi pertumbuhan ekonomi.
Ketika harga minyak melonjak tajam, ruang fiskal pemerintah menyempit, terutama jika harus menahan kenaikan harga domestik melalui subsidi. Di sisi lain, bank sentral negara-negara, khususnya importir minyak, juga harus lebih waspada terhadap risiko inflasi.
Untuk saat ini, dunia pelayaran dan pasar energi agaknya sedang berada dalam mode siaga. Tarif kapal melonjak, risiko meningkat, dan para pelaku industri menimbang skenario terburuk.
Kondisi Selat Hormuz saat ini bisa jadi catatan dunia bahwa di era globalisasi, jalur air yang meski kecil saja di Timur Tengah, bisa menentukan denyut ekonomi global.
(dsp)






























