Seorang ulama senior, Khamenei muncul dari gerakan religius anti-imperialis yang mengambil alih kekuasaan dalam revolusi 1979. Dengan janggut putih, jubah ulama, dan sorban hitam, ia memancarkan citra seorang patriark yang asketis. Sosok yang jarang tersenyum itu tidak pernah meninggalkan Iran setelah menjabat.
Ia menggunakan otoritasnya untuk menekan protes terhadap kepemimpinannya dan sistem Islam yang turut ia bangun. Responsnya yang tak tergoyahkan terhadap gelombang penolakan atas pandangannya mengenai hak perempuan dan kebebasan sipil memperkuat reputasinya sebagai pemimpin yang bersedia membunuh ratusan warga sipil demi mempertahankan kekuasaan.
Khamenei mendefinisikan posisi Iran di Timur Tengah sebagai musuh keras Israel dan penghalang tanpa kompromi bagi upaya Amerika Serikat memengaruhi kawasan. Ia memastikan ketidakpercayaan dan kebenciannya yang mendalam terhadap AS yang berakar pada sejarah campur tangan Washington dalam politik Iran dan dukungannya terhadap monarki yang pernah memenjarakannya selalu berada di garis depan kehidupan politik Iran. Ia berulang kali menyerukan kehancuran Israel dan menyebutnya sebagai tumor kanker di kawasan.
Komitmen pada Jihad
Khamenei “tanpa henti berupaya mentransformasikan konsep jihad dalam Islam tradisional” perjuangan berbasis iman melawan kejahatan yang direpresentasikan oleh Barat dan terutama AS “serta menjadikannya isu sentral dalam ideologi rezim Islamis,” tulis Mehdi Khalaji dari Washington Institute for Near East Policy.
Meski bukan satu-satunya yang menekankan jihad, “kontribusi barunya” adalah menjadikannya “fondasi seluruh sistem ideologi Republik Islam dan satu-satunya dasar praktik kenegaraan rezim Iran.”
Sejak 1989, ketika menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, Khamenei melindungi kepentingan institusi keagamaan garis keras dan militer — sering berlawanan dengan opini publik yang mendukung reformasi dan hubungan lebih dekat dengan Barat. Ketika pemberontakan meletus pada 2022 setelah seorang perempuan muda meninggal dalam tahanan polisi moral, ia merespons dengan penindasan mematikan melalui aparat keamanan dan eksekusi yudisial.
Respons terhadap protes nasional terbaru bahkan lebih brutal. Kelompok HAM masih memverifikasi korban tewas sejauh ini lebih dari 7.000 orang setelah pemutusan total internet diberlakukan.
Pengaruh Khamenei melampaui Iran. Ia mengawasi ekspansi Korps Garda Revolusi Islam, kekuatan militer utama sekaligus instrumen proyeksi kekuatan ke luar negeri, yang membangun kerajaan bisnis mencakup hingga 40% ekonomi. Sebagai imbalannya, para komandannya memberinya loyalitas tanpa syarat.
Iran membangun jaringan sekutu negara dan non-negara di Timur Tengah yang bertempur atas namanya dan menjadi lingkar pencegah terhadap Israel dan sekutu AS.
Ia memperoleh pengaruh besar di Irak, Suriah, Lebanon, Yaman, dan Gaza melalui dukungan milisi dan perang proksi.
Serangan 11 September 2001 sempat menghadirkan kerja sama langka antara Washington dan Teheran melawan Taliban, tetapi berakhir ketika Presiden George W. Bush menyebut Iran bagian dari “poros kejahatan.”
Setelah invasi AS ke Irak pada 2003, Garda Revolusi mengorganisasi milisi Syiah untuk menyerang pasukan Amerika.
Sebagai pembela Palestina, ia juga memberi dukungan kepada Hamas. Namun respons keras Israel setelah serangan Oktober 2023 mengubah keseimbangan kekuatan kawasan dan menghancurkan Poros Perlawanan.
Israel menewaskan pimpinan Hamas, melumpuhkan Hizbullah, dan tergulingnya Bashar al-Assad pada 2024 menjadi pukulan terakhir bagi aliansi regional Khamenei.
Meski menyatakan Iran tidak menginginkan senjata nuklir, ia mengawasi pengembangan program nuklir yang lama dicurigai Barat memiliki dimensi militer. Kesepakatan 2015 runtuh setelah Trump keluar pada 2018.
Pemberontakan nasional Desember 2025 dipicu anjloknya mata uang yang membuat kebutuhan pokok tak terjangkau. Aparat menewaskan ribuan orang dan menangkap banyak lainnya, sementara Khamenei menyatakan “para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya.”
Belajar di Bawah Khomeini
Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad. Pada usia 19 tahun ia pindah ke Qom dan belajar di bawah Khomeini.
Ia bergabung dalam gerakan bawah tanah untuk menggulingkan Shah, berulang kali ditangkap dan diasingkan.
Setelah revolusi, ia menjadi imam salat Jumat di Teheran. Percobaan pembunuhan melumpuhkan tangan kanannya, tetapi beberapa bulan kemudian ia menjadi presiden.
Meski selalu konservatif, ia memulai karier sebagai ulama yang lembut, perokok pipa, pecinta sastra, dan memiliki enam anak.
Perang Iran-Irak mempererat hubungannya dengan Garda Revolusi, yang kemudian menjadi alat utama ekspansi pengaruh Iran, termasuk melalui Hizbullah di Lebanon dan pembentukan Pasukan Quds.
Amandemen Konstitusi
Saat Khomeini wafat pada 1989, Khamenei bukan pilihan paling jelas karena kualifikasi keilmuannya di bawah tingkat ayatollah yang disyaratkan konstitusi sehingga perlu amandemen.
Selama masa kekuasaannya, beberapa presiden moderat terpilih, tetapi ruang reformasi tetap terbatas.
Protes 2009 ditumpas keras. Pada 2013, Hassan Rouhani mencapai kesepakatan nuklir 2015 yang disetujui dengan enggan oleh Khamenei.
Kenaikan harga bbm 2019 memicu kekerasan besar. Pada 2020, ia melarang vaksin buatan AS dan Eropa saat pandemi.
Tahun yang sama, Garda Revolusi mengakui menembak jatuh pesawat Ukraina. Dalam khotbah langka, Khamenei membela pasukan itu, menegaskan loyalitasnya pada aparat keamanan di atas penderitaan publik.
(bbn)
























