Sebagai rahbar, Khamenei memegang kendali atas militer, peradilan, media negara, serta penunjukan posisi kunci pemerintahan. Ia memperkuat aliansi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang berkembang bukan hanya sebagai kekuatan militer utama tetapi juga kekuatan ekonomi dengan pengaruh besar di berbagai sektor strategis.
Sebagai imbalannya, Garda Revolusi menjadi pilar utama yang menopang kekuasaannya di tengah tekanan domestik maupun eksternal.
Di dalam negeri, Khamenei secara konsisten menekan gelombang protes dari gerakan reformasi 2009 hingga demonstrasi yang dipicu isu ekonomi dan kebebasan sipil dalam beberapa tahun terakhir melalui kombinasi aparat keamanan dan sistem peradilan.
Arsitek Kebijakan Regional Iran
Di tingkat regional, Khamenei menjadikan Iran sebagai kekuatan utama dalam jaringan kelompok sekutu dan milisi di Timur Tengah, termasuk di Irak, Suriah, Lebanon, Yaman, dan Gaza. Strategi ini membentuk apa yang sering disebut sebagai “poros perlawanan” terhadap Israel dan pengaruh Amerika Serikat.
Ia memosisikan Iran sebagai musuh utama Israel dan penantang dominasi AS di kawasan, sikap yang berakar pada pengalaman pribadi menghadapi monarki pro-Barat sebelum revolusi.
Namun, dinamika geopolitik terutama setelah perang Gaza 2023, melemahnya Hizbullah, dan jatuhnya Bashar al-Assad pada 2024 menggerus sebagian pengaruh regional yang dibangun selama puluhan tahun.
Meski Khamenei berulang kali menyatakan senjata nuklir bertentangan dengan ajaran Islam, Khamenei tetap mengawasi pengembangan program nuklir Iran yang memicu sanksi Barat selama bertahun-tahun.
Ia menyetujui kesepakatan nuklir 2015 dengan penuh kehati-hatian, namun keluarnya Amerika Serikat dari perjanjian tersebut pada 2018 memperkuat pandangannya bahwa Washington tidak dapat dipercaya.
Dalam ideologi negara, Khamenei menempatkan konsep jihad sebagai perjuangan melawan dominasi Barat dan sebagai fondasi utama Republik Islam. Pendekatan ini membentuk kebijakan luar negeri Iran sekaligus memperkuat identitas revolusioner rezim.
Dari Ulama Moderat ke Pemimpin Garis Keras
Pada awal kariernya, Khamenei dikenal sebagai ulama yang lembut, menyukai sastra, dan berinteraksi dengan kalangan intelektual sekuler. Namun perang Iran–Irak pada 1980-an dan dinamika politik pascarevolusi membentuknya menjadi pemimpin dengan pendekatan keamanan yang keras.
Selama masa kekuasaannya, Iran beberapa kali memilih presiden yang relatif moderat. Namun ruang reformasi tetap terbatas karena otoritas tertinggi berada di tangannya.
Khamenei meninggalkan jejak sebagai pemimpin yang mengonsolidasikan kekuasaan ulama dalam sistem republik Islam, membangun jaringan pengaruh regional melalui aktor negara dan non-negara.
Selain itu ia mempertahankan sikap konfrontatif terhadap Israel dan Amerika Serikat dan menempatkan aparat keamanan sebagai pilar stabilitas rezim
Di sisi lain, kebijakannya juga diwarnai sanksi ekonomi, isolasi internasional, serta penindasan terhadap oposisi domestik.
Bagi pendukungnya, ia adalah penjaga revolusi dan kedaulatan Iran. Bagi para pengkritiknya, ia simbol sistem politik yang menutup ruang kebebasan sipil.
(bbn)


























