Logo Bloomberg Technoz

AS sudah menyerang setidakna tujuh negara sejak Trump kembali menjabat sebagai presdien, tetapi tidak satu pun dengan skala sebesar serangan ke Iran.

Hal ini memperlihatkan bahwa Trump lebih memusatkan perhatian pada masalah-masalah luar negeri bukannya masalah dalam negeri seperti inflasi dan daya beli. Situasi ini juga membuat nasib politiknya lebih tergantung pada peristiwa yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya.

"Kemungkinan besar ini menarik bagi Donald Trump yang menghadapi berbagai masalah di dalam negeri," kata Paul Musgrave, dari Sekolah Kebijakan Luar Negeri AS Universitas Georgetown di Doha. Musgrave merujuk pada para politisi yang memanfaatkan perang di luar negeri untuk mendongkrak dukunga di dalam negeri.

"Melihat tingkat pujian yang dia dapat dari aksi militer di Venezuela, yang merupakan satu dari sejumlah kecil prestasinya dalam beberapa bulan terakhir, dia mungkin ingi mendapatkannya kembal di tingkat yang lebih luas," kata Musgrave.

Perang seringkali mendefinisikan kepresidenan Amerika Serikat meski penguasa Kantor Oval Gedung Putih itu tidak memiliki niat untuk itu. Vietnam menggerecoki masa pemerintah Presiden Lyndon Johnson, dan Irak membayangi pemerintahan George W. Bush dan Obama.

Kemenangan dalam satu peperangan pun tidak menjamin menjadi penyelamat nasib politik presiden AS. Kemengan cepat Perang Teluk pada 1991 tidak bisa menyelamatkan Presiden George H. Bush ketika para pemilih mengalihkan suara mereka akibat situasi ekonomi dalam negeri.

Trump "tiba-tiba mempersipkan warga AS menghadapi konlik panjang dan penuh darah," kata Musgrage.

"Jika dia berpikir menjalankan satu hal yang lebih lama, hal yang memecah belah, kemungkinan akan berdampak buruk pada dia dalam jangka panjang." tambah Musgrave.

Korban AS

Sebelum menjadi presiden Trump berulang kali menegaskan bahwa presiden-presiden AS bisa memanfaatkan serangan ke Iran untuk menyelamatkan kursi kepresidenan mereka yang terancam.

"Agar terpilih @BarackObama siap untuk memulai perang dengan Iran," tulisnya di Twitter pada 2011.

Setahun kemudian, dia meramal Obama akan "menyerang Iran untuk agar terpilih kembali," dan pada 2013 dia memperkirakan satu serangan oleh Obama untuk "menyalamatkan muka." Di tahun yang sama Trump memperkirakan "Presiden Obama akan menyerang Iran karena tidak mampu melakukan perundingan dengan baik - tidak ahli!"

Trump mengaku pada Sabtu (28/2) bahwa "nyawa para pahlawan Amerika akan hilang, dan akan jatuh korban di pihak kita."

Di luar itu, konflik berkepanjangan bisa menyebabkan kenaikan harga barang hanya beberapa bulan sebelum pemilihan sela, padahal biaya hidup yang tinggi sudah menjadi acuan para pemilih AS. Keputusan Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan sernagan itu akan mengganggu rantai pasok dan memicu kepanikan di kalangan investor.

Harga minyak - tahun ini saja sudah naik 20% yang sebagian besar disebabkan oleh ketegangan Iran-AS - akan naik tinggi dalam pembukaan pasar keuangan di Asia pada Senin (2/3) pagi. Ini berarti harga bahan bakar yang lebih tinggi untuk warga Amerika.

Wakil Presiden JD Vance, yang sebelumnya menentang keras perang di luar negeri, menampik perkiraan bahwa perang akan berlangsung lama.

"Tidak mungkin kita akan terlibat perang di Timur Tengah tanpa akhir," katanya pada Kamis (26/2).

Namun, banyak pengamat militer yang mengatakan perubahan rejim di Iran tidak bisa tercapai hanya dengan serangan udara yang cepat, dan  kemungkinan perubahan tiu tidak akan terjadi.

Di kalangan pemerintah Trump sejumlah pejabat senior sejak lama mengatakan bahwa diplomasi kemungkinan tidak cukup untuk menghentikan ambisi Iran membuat senjata nuklir, meski negara ini bersikeras tidak berniat membuat senjata.

Di luar Gedung Putih, anggota Partai Republik garis keras seperti Senator Lindsey Graham secara terbuka mendorong aksi militer, dengan mengatakan hal itu merupakan kesempatan bersejarah untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran dan mendongkel kepemimpinan Republik Islam yang selama 50 tahun merupakan musuh AS.

Pihak yang mendapat keuntungan dari perdebatan ini adalah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menetapkan tujuan politik utamanya adalah menghancurkan Iran.

Sejak kembali menjadi presiden 13 bulan lalu, Trump sering kali sejalan dengan Netanyahu meski ada keraguan di kalangan pendukung utamanya. Trump meeminta pengampunan dalam pengadilan kasus suap Netanyahu dengan menyebutkan sebagai pemimpin di masa perang yang luar biasa. Hal ini membuat marah sebagian pendukung Trump yang memperlihatkan keretakan di kubu sayap kanan terkait Israel dan kemungkinan perang dengan Iran.

"Amerika Serikat bergerak ke arah perang besar, perang sesungguhnya dengan Iran, perang perubahan rejim, perang terbesar As sejak invasi ke Irak pada 2003," kata Tucker Carlson, pengamat di kubu sayap kanan, minggu lalu.

"Dan Israel yang mendorong itu semua. Kita melakukan ini atas perintah, atas permintaan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu," ujar Carlson.

Sejumlah sekutu AS juga mempertanyakan serangan itu. Presiden Finlandia Alezander Stubb mengatakan AS "begerak di luar hukum internasional" setelah serangan itu.

Ongkos eskalasi ini tidak hanya di sisi politik. Rudal Iran menyerang Israel tahun lalu berhasil menghancurkan sejumlah besar rudal pencegat.

Pusat Studi Strategis dan Internasional mengatakan pasukan AS diperkirakan telah menggunakan 150 rudal THAAD dalam konflik ini, hampir seperempat dari jumlah yang dimilikinya.

Perhitungan AS dan Iran meungkin berubah dalam beberapa minggu sebelum aksi protes besar yang terjadi di Iran pada Desember dan Januari.

Aksi ini menjadi ancaman terbesar pada Republik Islam sejak berdiri pada 1979 dan menggaris bawahi kekecewaan mendalam rakyat negara ini.

Ada kemungkinan Trump menerapkan strategi yang sama dengan aksi di Venezuela - mencoba melumpuhkan sistem dengan mendongkel para pemimpin dan membiarkan sisanya tetap ada. Taruhannya adalah memotong kepala tidak mewajibkan AS bertanggung jawab atas peristiwa setelah itu.

Apapun kasusnya, mendongkel rejim negara dengan penduduk 90 juta yang memiliki militer bersenjata kuat yang mengendalikan dengan ketat para pembangkang.

Meski aksi protes bulan lalu memperlihatkan bahwa pemerintah Iran tidak populer di kalangan rakyat, warga negara ini memiliki sejarah nasionalisne tinggi ketika ada aksi dari luar negaranya.

"ini adalah momen penting bagi keberadaan penguasa Republik Islam Iran.  Militer dan pendukung ideologi negara pun kini bersiap menghadapi perang berkepanjangan melawan AS dan Israel." kata Ellie Geranmayeh, dari Dewaan Eropa bidang Hubungan Internasional.

"Situasi ini dengan cepat membuka pintu bagi kekacauan regional, dan serangan balasan Iran yang luas pun sudah dimulai." ujarnya.

(bbn)

No more pages