Dengan begitu, agaknya industri manufaktur dan sektor perdagangan mulai mengisi kembali persediaan sejak Januari untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada periode tersebut.
Jika lonjakan impor ini benar terjadi, agaknya pertumbuhan impor yang lebih tinggi menjadi gambaran bahwa pelaku usaha cukup optmimis terhadap prospek konsumsi domestik jangka pendek.
Akan tetapi dari sisi neraca perdagangan, kombinasi ekspor 11,9% dan impor 20% berarti surplus berpotensi menyempit dibanding bulan-bulan sebelumnya, terutama jika harga komoditas tidak melonjak signifikan.
Namun meskipun impor diproyeksikan melonjak lebih cepat daripada ekspor, surplus neraca perdagangan RI diperkirakan bertahan relatif solid sebesar US$2,8 miliar. Proyeksi ini naik dari capaian sebelumnya US$2,51 miliar.
Hal ini menunjukkan nilai ekspor secara nominal masih cukup kuat untuk menjaga keseimbangan eksternal, setidaknya dalam jangka pendek.
Pasar akan tetap mencermati efek kerjasama dagang antara RI dan AS, apakah lonjakan impor ini mencerminkan ekspansi yang berkelanjutan, atau sekadar efek pemulihan sesaat setelah kontraksi akhir tahun. Di sisi lain, pasar juga menantikan pengaruh kerjasama dagang itu terhadap capaian pertumbuhan ekspor RI.
(dsp/aji)



























