AI yang bertindak sebagai agen atau agentic AI akan mengambil alih sejumlah proses kunci, menciptakan peningkatan produktivitas, namun juga risiko baru.
“Ekonomi melaju pesat secara teknologi tetapi terpecah secara sosial: pengangguran melonjak, kepercayaan konsumen terkikis, dan pemerintah menghadapi peningkatan risiko dan ketidakstabilan sosial,” WEF menerangkan.
“Ekspansi model bisnis ultra-ramping dan berbasis AI menciptakan peluang pertumbuhan baru, tetapi ketergantungan yang berlebihan pada sistem AI yang bertindak sebagai agen dan kurangnya pengawasan meningkatkan risiko sistemik dan manipulasi kognitif.”
Apa itu Agentic AI?
Agentic AI adalah bentuk pengembangan kecerdasan buatan yang berfokus pada pengambilan keputusan dan tindakan secara otonom. Google Cloud bahwa mengatakan agen AI tak seperti AI tradisional yang khususnya merespons perintah atau menganalisis data.
Mereka memandang bahwa teknologi yang tengah berkembang tersebut berpotensi merevolusi pelbagai industri dengan mengotomatiskan proses yang kompleks dan mengoptimalkan alur kerja.
“Agen AI ini dapat menetapkan sasaran, membuat rencana, dan menjalankan tugas dengan intervensi manusia yang minimal,” tulis platform layanan komputasi awan tersebut.
Sistem agentic AI dirancang untuk beroperasi dengan tingkat otonomi yang lebih tinggi. Cara kerjanya dengan menggunakan agen AI, yang pada dasarnya merupakan entitas otonom dan dirancang untuk melakukan tugas tertentu.
Pada intinya, teknologi ini dibangun berdasarkan beberapa komponen utama: persepsi, penalaran, perencanaan, tindakan, dan refleksi.
Google Cloud menegaskan, meskipun agentic AI dan AI generatif atau generative AI merupakan bentuk kecerdasan buatan dan bisa digunakan bersama-sama, keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Generative AI berfokus pada pembuatan konten baru, seperti teks, gambar, kode, atau musik, berdasarkan perintah input.
Dalam skala lebih luas, model bahasa besar (large language model/LLM) adalah inti dari AI generatif dan nilainya dihasilkan oleh kemampuan model serta ekstensi sederhana dari kemampuan LLM. Ambil contoh, pengguna dapat membuat atau mengedit konten, dan bahkan melakukan panggilan fungsi sederhana, serta menggabungkan berbagai opsi.
Lanjut, agentic AI adalah bagian dari AI generatif yang berfokus pada orkestrasi dan eksekusi agen yang menggunakan LLM sebagai “otak” untuk melakukan tindakan lewat alat. Agen AI melampaui pembuatan konten dan panggilan fungsi dengan menjalankan tindakan dalam sistem yang mendasarinya untuk mencapai sasaran tingkat yang lebih tinggi.
“Misalnya, AI generatif dapat digunakan untuk membuat materi pemasaran, sementara agentic AI dapat digunakan untuk menyebarkan materi ini, menelusuri performanya, dan menyesuaikan strategi pemasaran secara otomatis berdasarkan hasil yang diperoleh. Dengan cara ini, agentic AI dapat menggunakan AI generatif sebagai alat untuk mencapai tujuannya.”
Perusahaan yang menaruh perhatian atas agentic AI adalah Salesforce. Mereka dengan keputusan bulat bahan telah memangkas ribuan pegawainya atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.000 karyawan di bidang dukungan pelanggan. Sebagai gantinya Salesforce mendorong AI bekerja.
Pernyataan tersebut disampaikan Chief Executive Officer (CEO) Salesforce, Marc Benioff di podcast The Logan Barlett Show, yang telah diunggah dalam kanal YouTube The Logan Barlett Show pada Jumat (29/8/2025) lalu.
“Saya berhasil menyeimbangkan kembali jumlah karyawan di bagian dukungan saya. Saya telah menguranginya dari 9.000 menjadi sekitar 5.000, karena saya membutuhkan lebih sedikit karyawan,” kata Benioff.
Dia menambahkan bahwa interaksi yang sama masih terjadi hingga saat ini, tetapi 50% dengan agen AI, 50% dengan manusia. Benioff tak melihat pengendalian tenaga kerja yang menggabungkan manusia dan agentic AI sebagai masa depan yang buruk. “Saya sama sekali tidak menganggapnya sebagai distopia, Ini kenyataan, setidaknya bagi saya,” kata dia.
(far/wep)






























