Sebab menurutnya tanpa stabilitas makroekonomi dan kesehatan fiskal, negara rentan terhadap krisis yang dapat menghambat pembangunan, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Apakah mempertahankan disiplin fiskal itu sulit? Tentu saja. Setiap negara memiliki banyak tujuan—mulai dari pembangunan sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, hingga keamanan—sementara sumber daya selalu terbatas. Tantangan politiknya adalah bagaimana menjaga disiplin fiskal tanpa menghambat pencapaian berbagai tujuan tersebut," ujar Sri Mulyani.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dan analisis yang kuat atau evidence-based policy. Pendekatan teknokratis yang kredibel dan transparan dalam penyusunan anggaran dinilai menjadi kunci menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan reformasi dan pembangunan tetap berjalan.
"Saya selalu berupaya menjaga kepercayaan tersebut, terutama dalam penyusunan dan penyajian anggaran negara. Kepercayaan politik terhadap pengelolaan anggaran adalah pencapaian penting, karena di situlah berbagai kepentingan politik bertemu," tegasnya.
(lav)





























