Dalam periode yang sama, diteken nota kesepahaman independent design review. Kemudian, pada kuartal II-2025, authorization for expenditure drilling design & wells technical authority untuk tahap define sudah diselesaikan..
Terkait dengan perizinan lahan dan lingkungan, Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan (PPKH) telah terbit pada 7 Januari 2026. Sementara itu, persetujuan Amdal didapatkan pada 13 Februari 2026.
Djoko mengungkapkan seluruh survei dan studi untuk FEED, termasuk studi carbon capture storage (CCS), site response, tsunami, hingga survei G&G juga dinyatakan selesai.
Dia menambahkan, berdasarkan data terkini, pengerjaan FEED SURF terealisasi 56,13% dan FEED GEP terealisasi di angka 56,72%. Sementara itu, FEED FPSO sudah mencapai 47,01% dan FEED OLNG di angka 43,52%.
Untuk sisi komersial, progres draf LNG development agreement (LDA) saat ini mencapai 35% dengan target selesai pada kuartal kedua 2026. Adapun, head of agreement (HOA) dengan PT PLN EPI, PT PGN, dan Pupuk Indonesia bersifat tidak mengikat sejak Mei 2025.
Djoko juga menargetkan penyelesaian FEED EPCI SURF & GEP pada periode Juni—Oktober 2026, sedangkan FEED FPCI OLNG & FPSO ditargetkan rampung pada Juni—November 2026.
Pekerjaan awal atau early work dijadwalkan mulai pada kuartal I-2026. Target akhir untuk finalisasi LDA dan final investment decision (FID) dipatok pada Desember 2026.
Djoko mengungkapkan dalam waktu dekat, Inpex akan menyelesaikan sosialisasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan serta penyelesaian kompensasi tanam tumbuh pada Maret 2026.
Kemudian, groundbreaking dan dimulainya konstruksi OLNG direncanakan pada April 2026, diikuti dengan target gas sales agreement (GSA) pada November 2026.
Sekadar catatan, SKK Migas sebelumnya mengungkapkan Inpex telah mengamankan pendanaan proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela senilai US$20 miliar atau sekitar Rp335,98 triliun (asumsi kurs Rp16.799/US$).
Adapun, hingga saat ini Inpex masih belum mendapatkan pembeli gas dari lapangan di Blok Masela tersebut.
Djoko, dalam kesempatan sebelumnya, mengaku akan terus mendorong Inpex agar segera menemukan pembeli gas dari lapangan tersebut. Apalagi, SKK Migas telah memberikan berbagai kemudahan dalam proses pengurusan perizinan Inpex untuk menggarap lapangan gas alam raksasa tersebut.
Proyek Abadi Masela ditaksir sanggup memproduksi 9,5 juta ton gas alam cair atau LNG per tahun, setara dengan lebih dari 10% impor LNG tahunan Jepang.
Selain itu, proyek ini juga diestimasikan mengakomodasi gas pipa 150 MMSCFD, serta 35.000 barel kondensat per hari (BCPD).
Pemegang hak partisipasi atau participating interest (PI) di Blok Masela adalah Inpex Masela Ltd. dengan porsi 65%. Kemudian Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela menggenggam 20% PI dan Petrolian Nasional (Petronas) Masela Berhad sebesar 15%.
Dalam perkembangannya, SKK migas menargetkan pembangunan perdana atau groundbreaking proyek Gas Masela dilakukan pada akhir Maret 2026 atau sebelum Idulfitri 1447 H.
Adapun, SKK Migas sempat mengonfirmasi terdapat tambahan biaya investasi di Blok Masela untuk mengimplementasikan penambahan fasilitas CCS.
Perusahaan migas asal Negeri Sakura tersebut menambah biaya US$1 miliar atau setara Rp16,34 triliun (asumsi kurs Rp16.350) untuk proyek tangkap-simpan karbon di Blok Masela.
Dengan demikian, proyek yang awalnya senilai US$20,94 miliar, kini bengkak menjadi US$21,94 miliar.
(azr/wdh)





























