Logo Bloomberg Technoz

Demo Massa Ribuan Orang Usai Pita Gagal Jadi PM Thailand

News
24 July 2023 18:05

Pedemo memberikan hormat tiga jari untuk mendukung partai Move Forward Pita di Bangkok, Thailand, Minggu (23/7/2023). (Andre Malerba/Bloomberg)

Pedemo memberikan hormat tiga jari untuk mendukung partai Move Forward Pita di Bangkok, Thailand, Minggu (23/7/2023). (Andre Malerba/Bloomberg)

Demo tersebut sebagai bentuk dukungan kepada Pita Limjaroenrat setelah dijegal untuk memimpin pemerintahan berikutnya. (Andre Malerba/Bloomberg)

Demo tersebut sebagai bentuk dukungan kepada Pita Limjaroenrat setelah dijegal untuk memimpin pemerintahan berikutnya. (Andre Malerba/Bloomberg)

Parlemen Thailand melarang Pita Limjaroenrat mencalonkan diri sebagai perdana menteri.  (Andre Malerba/Bloomberg)

Parlemen Thailand melarang Pita Limjaroenrat mencalonkan diri sebagai perdana menteri. (Andre Malerba/Bloomberg)

Keputusan yang DPR diambil ini tidak sesuai dengan pilihan rakyat negara tersebut. (Andre Malerba/Bloomberg)

Keputusan yang DPR diambil ini tidak sesuai dengan pilihan rakyat negara tersebut. (Andre Malerba/Bloomberg)

Mayoritas 395 anggota dari Majelis Nasional memilih agar Pita tidak mencalonkan lagi sebagai PM. (Andre Malerba/Bloomberg)

Mayoritas 395 anggota dari Majelis Nasional memilih agar Pita tidak mencalonkan lagi sebagai PM. (Andre Malerba/Bloomberg)

Langkah-langkah tersebut secara efektif membuat Pita tidak memiliki peluang untuk memimpin negara itu  (Andre Malerba/Bloomberg)

Langkah-langkah tersebut secara efektif membuat Pita tidak memiliki peluang untuk memimpin negara itu (Andre Malerba/Bloomberg)

Pedemo memberikan hormat tiga jari untuk mendukung partai Move Forward Pita di Bangkok, Thailand, Minggu (23/7/2023). (Andre Malerba/Bloomberg)
Demo tersebut sebagai bentuk dukungan kepada Pita Limjaroenrat setelah dijegal untuk memimpin pemerintahan berikutnya. (Andre Malerba/Bloomberg)
Parlemen Thailand melarang Pita Limjaroenrat mencalonkan diri sebagai perdana menteri.  (Andre Malerba/Bloomberg)
Keputusan yang DPR diambil ini tidak sesuai dengan pilihan rakyat negara tersebut. (Andre Malerba/Bloomberg)
Mayoritas 395 anggota dari Majelis Nasional memilih agar Pita tidak mencalonkan lagi sebagai PM. (Andre Malerba/Bloomberg)
Langkah-langkah tersebut secara efektif membuat Pita tidak memiliki peluang untuk memimpin negara itu  (Andre Malerba/Bloomberg)

Bloomberg Technoz,  Ribuan pengunjuk rasa pro-demokrasi Thailand berkumpul pada hari Minggu (23/07/2023). Protes massa ini dilakukan sebagai bentuk dukungan setelah partai-partai konservatif dan senator yang ditunjuk militer menghalangi upaya pemimpin kelompok pro-demokrasi Pita Limjaroenrat untuk memimpin pemerintahan berikutnya.

Parlemen Thailand melarang Pita Limjaroenrat mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri. Keputusan yang DPR diambil ini tidak sesuai dengan pilihan rakyat negara tersebut.

Menurut hasil yang diumumkan Ketua DPR Thailand Wan Muhamad Noor Matha, mayoritas 395 anggota dari Majelis Nasional yang beranggotakan 748 orang, memilih agar Pita tidak mencalonkan lagi sebagai perdana menteri setelah upaya sebelumnya dihalau.

Hal ini diumumkan usai perdebatan yang berlangsung hampir delapan jam pada Rabu (19/07/2023). Keputusan tersebut diambil tak lama setelah pengadilan menskors Pita sebagai anggota parlemen seraya menunggu putusan akhir untuk diskualifikasi dugaan pelanggaran aturan pemilu.

Langkah-langkah tersebut secara efektif membuat Pita tidak memiliki peluang untuk memimpin negara itu meskipun koalisi pro-demokrasi delapan partai yang ia bangun setelah pemilihan 14 Mei masih memiliki kesempatan untuk mengakhiri kekuasaan militer yang telah berkuasa selama hampir satu dekade.

Sekretaris Jenderal Partai Move Forward Chaithawat Tulathon pada Jumat (21/07/2023) mengatakan partai pimpinan Pita Limjaroenrat, yang dihadang oleh rival politik untuk menjadi perdana menteri negara itu sebanyak dua kali, akan tetap bersama koalisi itu. Move Forward juga akan menominasikan kandidat dari Pheu Thai untuk jabatan perdana menteri

Putaran pemungutan suara berikutnya untuk memilih perdana menteri ditetapkan pada 27 Juli. 

“Masalahnya hari ini bukan apakah Pita akan menjadi perdana menteri, tetapi apakah Thailand dapat kembali ke demokrasi,” kata Chaithawat. “Tujuan tertinggi kami masih membentuk pemerintahan untuk mengakhiri pemerintahan yang didukung militer.”

(bbn)