Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, lanjut dia, harga barang dan jasa jarang dinyatakan dalam Bitcoin. Bahkan di tempat-tempat di mana BTC diterima, barang dan jasa masih diberi harga dalam mata uang fiat dan kemudian secara otomatis dikonversi menjadi Bitcoin pada saat pembelian. 

Lee menyebut volatilitas harga Bitcoin yang ekstrem membuatnya tidak cocok untuk menentukan harga barang dan jasa, mengelola akun keuangan, mencatat utang, atau membandingkan nilai ekonomi dari waktu ke waktu dan antarpasar. Sebaliknya, unit perhitungan yang efektif harus stabil, dikenal luas, dapat diprediksi, dan mudah dipahami serta digunakan oleh masyarakat.

“Bitcoin belum memenuhi kriteria ini, yang semakin membatasi kegunaannya sebagai unit moneter fungsional,” kata Lee. Tak hanya itu, volatilitas Bitcoin yang ekstrem juga membatasi efektivitasnya sebagai penyimpan nilai.

Lee menjelaskan, suatu aset berfungsi sebagai penyimpan nilai yang andal apabila daya belinya tidak berfluktuasi secara liar, risiko kerugian permanen rendah, dapat dengan mudah dikonversi menjadi uang tanpa menyebabkan pergerakan harga yang besar atau likuiditas tinggi, permintaan jangka panjang stabil, dan nilainya tidak terlalu bergantung pada perilaku spekulatif. 

“Bitcoin gagal memenuhi beberapa kriteria ini. Nilainya sebagian besar didorong oleh sentimen pasar, kondisi likuiditas, spekulasi, dan siklus narasi yang berubah-ubah, bukan oleh fundamental ekonomi yang stabil dan mendasar,” terang dia.

Sementara itu, Lee menyatakan, para pendukungnya kerap berpendapat Bitcoin menyerupai bentuk digital emas karena pasokan maksimumnya dibatasi hingga 21 juta koin. Batas penerbitan hanya dapat diubah dengan konsensus global yang luas di seluruh jaringan.

Lee kemudian memperkirakan kini 99% dari seluruh Bitcoin bakal ditambang pada 2035 mendatang. Lalu, sebagian besar diperkirakan antara 3 juta-3,8 juta koin, diyakini telah hilang secara permanen karena kunci pribadi yang terlupakan, dompet yang rusak, atau alamat yang tak aktif.

“Pergerakan harga baru-baru ini menantang persepsi bahwa Bitcoin berfungsi seperti bentuk emas digital. Meskipun Bitcoin telah kehilangan sekitar 45% nilainya sejak Oktober 2025, harga emas telah naik sekitar 25%,” jelas Lee.

Menurut dia, kenaikan emas dan logam mulia lainnya mungkin mencerminkan kekhawatiran investor yang kembali muncul tentang penurunan nilai mata uang fiat—kekhawatiran yang dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat di awal tahun ini, defisit anggaran AS yang terus meningkat, dan inflasi yang tetap di atas target. “Namun, perlu dicatat bahwa Bitcoin tidak diuntungkan dari lingkungan ini,” tegas Lee.

Di samping itu, dia mengatakan terdapat aksi jual besar-besaran di pasar mata uang kripto pada awal 2026, yang telah menarik perhatian pasar keuangan lebih luas. Harga Bitcoin sempat jatuh ke titik terendah yaitu US$60.033 atau setara dengan Rp1 miliar (asumsi kurs Rp16.887/US$), sebelum pulih ke kurang lebih US$70.000 atau sekitar Rp1,1 miliar. 

“Saat ini diperdagangkan di bawah perkiraan biaya penambangan sekitar US$87.000 (Rp1,4 miliar), yang memberikan tekanan tambahan pada para penambang. Setelah mencapai rekor tertinggi baru sebesar US$126.251 (Rp2,1 miliar), Bitcoin telah kehilangan sekitar 45% nilainya selama empat bulan terakhir,” jelas Lee.

Kemudian, dia menilai aksi jual besar-besaran tersebut sudah menghapus sekitar US$1,1 triliun atau setara dengan Rp18.568 triliun dari kapitalisasi pasar Bitcoin, yang sekarang berada di sekitar US$1,37 triliun atau sekitar Rp23.129 triliun. Sebagai perbandingan, BTC telah menyumbang kurang lebih 59% dari total kapitalisasi pasar mata uang kripto sebesar US$2,34 triliun atau setara dengan Rp39.510 triliun.

“Pergerakan harga terus menunjukkan bahwa Bitcoin tetap sangat fluktuatif,” tutur Lee. Secara historis, tutur dia, pernah terjadi penurunan yang lebih besar. Penurunan besar terbaru terjadi pada November 2022, ketika Bitcoin kehilangan sekitar 75% nilainya. 

“Nilainya juga turun sekitar 60% antara Juni 2019 dan Maret 2020, dan sekitar 85% antara Desember 2017 dan Desember 2018. Volatilitas seperti itu memperkuat alasan mengapa mata uang kripto terus dipandang sebagai aset digital spekulatif daripada bentuk uang digital yang stabil,” pungkas Lee.

(wep)

No more pages