“Area yang disegel tersebut merupakan bagian dari kontrak karya yang dikelola oleh CPM di Palu yang samapai daat ini masih belum diitambang dan dioperasikan oleh CPM,” kata manajemen dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (18/2/2026).
Di tengah penyegelan tersebut, Manajemen BRMS menegaskan kegiatan produksi emas di lokasi River Reef Poboya tetap berjalan normal.
Selain itu,CPM tengah meningkatkan kapasitas fasilitas pengolahan emasnya dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari dengan target penyelesaian Oktober 2026. Perusahaan juga menargetkan pengoperasian tambang emas bawah tanah pada semester II-2027 dengan kadar emas diperkirakan 3,5–4,9 gram per ton.
Adapun sebelumnya, BRMS mengantongi fasilitas pinjaman berjangka senilai total US$625 juta dari sindikasi perbankan. Pinjaman tersebut diteken bersama Bangkok Bank Public Company Limited, Bank Permata, Bank Mega, dan BCA.
Manajemen menyebut fasilitas sebesar US$ 425 juta dialokasikan kepada anak usaha, PT Citra Palu Minerals (CPM). Dana itu akan digunakan untuk menyelesaikan pembangunan tambang emas bawah tanah yang ditargetkan rampung pada kuartal III-2027 serta peningkatan kapasitas pabrik pengolahan emas Carbon in Leach (CIL) dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari pada kuartal IV-2026.
Selain itu, dana juga akan digunakan untuk mendukung belanja modal dan kebutuhan modal kerja CPM, termasuk melunasi pinjaman sebesar US$120 juta yang masih outstanding kepada Bank Mega.
Sementara itu, fasilitas pinjaman senilai US$200 juta dialokasikan langsung kepada BRMS. Dana ini akan digunakan untuk mendanai kegiatan eksplorasi dan pengeboran melalui sejumlah entitas, yakni PT Gorontalo Minerals untuk peningkatan sumber daya dan cadangan tembaga di Gorontalo, PT Linge Mineral Resources untuk eksplorasi emas dan perak di Aceh, serta PT Suma Heksa Sinergi di Lebak, Banten.
(dhf)






























