Saat ini, Converse tengah berjuang di bawah kepemimpinan CEO Nike, Elliott Hill, yang mengambil alih kemudi pada 2024 untuk memulihkan kinerja perusahaan perlengkapan olahraga tersebut. Converse dinilai masih terlalu bergantung pada model sepatu Chuck Taylor, sementara upaya mereka merambah ke gaya lain belum membuahkan hasil. Akibatnya, pendapatan Converse anjlok 30% pada kuartal terakhir.
Penjualan Converse kini diprediksi menuju titik terendah dalam 15 tahun terakhir. Merek ini menjadi salah satu masalah utama bagi Nike saat ini, selain lesunya pasar di wilayah China yang berkontribusi pada penurunan penjualan selama tujuh kuartal berturut-turut.
Meski Hill telah berupaya menata ulang bisnis Nike di Amerika Utara dan kategori lari, perubahan tersebut belum mampu mendongkrak harga saham. Saham Nike tercatat turun 7% dalam 12 bulan terakhir hingga Jumat lalu, dan sempat melemah kembali sebesar 2,2% pada perdagangan Senin (9/2).
"Kami sedang menata ulang pasar untuk Converse di bawah kepemimpinan baru," ujar Hill kepada para analis pada Desember lalu.
Restrukturisasi ini merupakan kelanjutan dari langkah efisiensi Nike sebelumnya, di mana perusahaan telah memecat ratusan karyawan di pusat distribusi awal tahun ini, serta memangkas kurang dari 1% staf korporat pada tahun lalu.
(bbn)
































