Logo Bloomberg Technoz

Kilang Pertamina Cilacap Jadi Pusat Bioavtur Nasional


(Dok. Kilang Pertamina)
(Dok. Kilang Pertamina)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pertamina resmi memulai pembangunan Proyek Hilirisasi Biorefinery Cilacap Fase 2 melalui seremoni groundbreaking yang digelar di Kilang Cilacap pada Jumat 6 Februari. Proyek ini menjadi langkah strategis dalam mempercepat transisi energi nasional sekaligus memperkuat posisi Kilang Cilacap sebagai pusat hilirisasi dan pengembangan biofuel Pertamina.

Pengembangan Biorefinery Cilacap merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pertamina dalam menjawab tantangan energi berkelanjutan. Proyek ini tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi ramah lingkungan di dalam negeri, tetapi juga untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar energi hijau global.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menjelaskan bahwa sebelumnya Pertamina telah menyelesaikan Biorefinery Cilacap Fase 1. Fase ini merupakan pengembangan unit eksisting kilang yang menjadi fondasi penting bagi pengembangan biofuel di lingkungan Pertamina.

Menurut Mars Ega, Fase 1 memiliki peran krusial dalam mendukung program transisi energi nasional. “Sebagai penguatan program transisi energi, Biorefinery Cilacap Fase 1 menjadi tonggak utama dalam pengembangan bioavtur di Pertamina. Unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) sebagai penghasil avtur berbasis kerosene menjadi salah satu kunci produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF),” ujarnya.

Pengembangan proyek bioavtur ini telah melalui perjalanan panjang sejak 2021. Prosesnya dimulai dari tahap pengembangan awal, dilanjutkan dengan penyelesaian unit pada 2022, hingga pada 2025 berhasil memproduksi avtur ramah lingkungan berbahan baku minyak jelantah melalui skema co processing.

Keberhasilan tersebut didukung penggunaan katalis hasil karya anak bangsa. Implementasi teknologi ini telah dibuktikan melalui berbagai uji coba penerbangan, mulai dari pesawat CN 235 200 pada 2021, Boeing 737 Garuda Indonesia pada 2023, hingga Airbus A320 milik Pelita Air pada 2025.

Produksi SAF dan Dampak Ekonomi Berkelanjutan

(Dok. Kilang Pertamina)

Mars Ega menambahkan bahwa pada 2026 Pertamina menargetkan produksi Sustainable Aviation Fuel sebesar 27 ribu kiloliter per tahun. Bahan baku utama yang digunakan adalah minyak jelantah, sehingga sekaligus mendukung pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.

“Tahun 2026 ini, Pertamina menargetkan produksi SAF sebesar 27 ribu kilo liter per tahun, dengan bahan baku minyak jelantah. Kabar baiknya, telah ada komitmen offtaker dari beberapa maskapai, salah satunya Pelita Air, yang menandakan tingginya kepercayaan pasar terhadap produk SAF nasional,” tambah Mars Ega.

Sebagai kelanjutan dari Fase 1, Pertamina memulai pembangunan Biorefinery Cilacap Fase 2 dengan kapasitas 6 Kilo Barrel per Day. Fase ini dirancang untuk memproduksi SAF dan Hydrogenated Vegetable Oil yang ditujukan bagi pasar domestik maupun internasional.

Biorefinery Cilacap Fase 2 menjadi salah satu dari enam proyek hilirisasi strategis yang digroundbreaking secara serentak oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani. Prosesi dilakukan secara daring dari Jakarta dengan sambungan ke berbagai lokasi proyek, termasuk Kilang Cilacap.

Dengan beroperasinya Fase 1 dan rampungnya Fase 2 ke depan, Pertamina menargetkan Kilang Cilacap menjadi pusat hilirisasi nasional untuk pemenuhan kebutuhan bioavtur dalam negeri. “Dengan beroperasinya Biorefinery Fase 1 dan selesainya Fase 2 nantinya, Kilang Cilacap akan menjadi hub hilirisasi nasional untuk mendukung pemenuhan kebutuhan bioavtur dalam negeri,” tegas Mars Ega.

Dari sisi korporasi, Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina Persero, Emma Sri Martini, menyampaikan bahwa proyek Biorefinery Cilacap selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Implementasi tersebut terutama mendukung agenda swasembada energi, hilirisasi industri, dan pengentasan kemiskinan.

Emma menekankan bahwa proyek bioavtur ini memberikan dampak ekonomi dan lingkungan yang signifikan. “Pengembangan bioavtur ini memiliki dampak positif yang signifikan. Selain mengubah minyak jelantah menjadi energi hijau, proyek ini juga memberikan multiplier effects berupa penurunan emisi karbon hingga 600 ribu ton CO₂ per tahun, penciptaan sekitar 5.900 lapangan kerja, serta peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri hingga 30 persen dari total proyek,” jelasnya.

Dari sisi operasional, General Manager Kilang Cilacap, Wahyu Sulistyo Wibowo, menegaskan bahwa proyek ini merupakan wujud nyata penerapan ekonomi sirkular di sektor energi. Kilang Cilacap mengambil peran penting dalam mengolah limbah menjadi sumber energi bernilai tinggi.

“Melalui proyek ini, Kilang Cilacap menghadirkan solusi ekonomi sirkular, mengubah limbah menjadi energi bernilai tinggi. Kilang Cilacap berperan sebagai salah satu Green Refinery utama, dengan dukungan teknologi dan katalis hasil karya anak bangsa yang dikembangkan bersama Pertamina,” ungkap Wahyu.

Ia menambahkan bahwa pengembangan Bioavtur Cilacap tidak hanya mendukung target transisi energi nasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan mendorong pertumbuhan industri hijau. Proyek ini dinilai mampu meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai energi berkelanjutan global.

Dengan langkah strategis ini, Pertamina menegaskan perannya sebagai penggerak utama transisi energi nasional. Biorefinery Cilacap diharapkan menjadi contoh konkret bagaimana hilirisasi, inovasi teknologi, dan keberlanjutan dapat berjalan seiring untuk menciptakan nilai ekonomi dan lingkungan jangka panjang.