Jika Paramount dapat melewati masa tunggu tersebut, hal itu bisa dijadikan sinyal persetujuan pemerintah dan digunakan untuk meyakinkan para pemegang saham Warner Bros. agar menolak transaksi dengan Netflix.
Namun, berakhirnya periode peninjauan tidak berarti Paramount sepenuhnya aman. DOJ masih dapat menyelidiki dan berpotensi menantang kesepakatan tersebut setelah periode itu berakhir.
Jika Paramount mengubah ketentuan kunci seperti harga, atau pada akhirnya menandatangani perjanjian merger dengan Warner Bros., proposalnya kemungkinan harus diajukan kembali untuk ditinjau DOJ.
Warner Bros. pada Desember sepakat menjual studio dan bisnis streamingnya kepada Netflix senilai US$82,7 miliar, memilih opsi tersebut ketimbang tawaran tandingan dari Paramount.
Warner Bros. berencana menggelar pemungutan suara pemegang saham atas proposal itu pada April. Paramount telah berupaya melemahkan kesepakatan Netflix dengan mendekati pemegang saham secara langsung dan melobi regulator.
Departemen Kehakiman tengah melakukan peninjauan mendalam atas penawaran Netflix dan Paramount, sebelumnya dilaporkan Bloomberg News.
Kelompok-kelompok kunci di Hollywood, termasuk agensi talenta, baru saja menerima permintaan informasi dari pejabat federal, menurut orang yang mengetahui proses tersebut.
Paramount menolak berkomentar. Departemen Kehakiman tidak segera menanggapi permintaan komentar.
“Kami tidak akan mengirim surat ‘scarlet’ yang memperingatkan pihak-pihak agar ‘menutup transaksi dengan risiko sendiri,’” kata Bill Rinner, saat itu asisten jaksa agung di DOJ, dalam sebuah pidato tahun lalu.
Rinner kini menjadi pengacara di Latham & Watkins, salah satu firma yang mewakili Paramount.
“Tanpa berpanjang lebar, surat-surat semacam itu mencerminkan kualitas nasihat yang memprihatinkan jika klien keliru percaya bahwa berakhirnya masa tunggu berdasarkan undang-undang berarti ‘lampu hijau’ atau ‘persetujuan’ atas suatu transaksi.”
Departemen Kehakiman dapat menggugat untuk memblokir Netflix, yang akan meningkatkan peluang Paramount memenangkan Warner Bros. tanpa harus menaikkan penawaran tunainya sebesar US$30 per saham.
Juru bicara Netflix mengatakan perusahaan meyakini Paramount “tampak berniat salah menggambarkan proses peninjauan regulasi” dan akan “menyatakan sendiri” bahwa mereka telah mematuhi regulator federal.
“Kami tetap fokus pada nilai yang dapat diciptakan Netflix dan Warner Bros. bersama-sama,” ujar juru bicara tersebut.
Paramount dan Netflix juga menghadapi peninjauan yang sedang berlangsung di Uni Eropa dan Inggris, serta pengawasan dari jaksa agung negara bagian di AS.
Para pemegang saham Warner Bros. memperkirakan Paramount akan menaikkan tawaran senilai US$108 miliar untuk seluruh Warner Bros.
Namun hingga kini Paramount menolak, dengan tetap menyatakan bahwa tawarannya lebih unggul dibanding Netflix dan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan persetujuan regulator.
Chief Executive Officer Paramount, David Ellison, berargumen bahwa penggabungan Netflix, HBO, dan Warner Bros. akan membuat perusahaan streaming berbayar terbesar di dunia menjadi semakin besar.
Kesepakatan Netflix ini menuai kritik, termasuk serangan bipartisan dalam sidang Senat pada 3 Februari.
Warner Bros. dan Netflix menyatakan yakin mampu memenangkan persetujuan regulator atas kesepakatan mereka dan berpendapat bahwa transaksi dengan Paramount akan lebih buruk bagi Hollywood.
Meski demikian, keduanya mengakui bahwa peninjauan oleh Departemen Kehakiman kemungkinan akan berlanjut hingga akhir tahun ini.
(bbn)






























