Ledakan pembangunan ini menegaskan prioritas pemerintah untuk memastikan pasokan energi yang stabil, setelah negara itu terdampak serangkaian krisis kekurangan listrik pada 2021 dan 2022.
Pembangunan PLTU tersebut berlangsung bersamaan dengan gelombang besar proyek tenaga surya dan angin beserta sistem penyimpanan baterainya, yang lebih dari cukup untuk memenuhi pertumbuhan permintaan listrik.
Kondisi ini mendorong pembangkitan listrik termal mengalami penurunan pada tahun lalu untuk pertama kalinya dalam satu dekade.
“China membangun kapasitas batu bara jauh lebih cepat dibandingkan tingkat pemanfaatannya, sehingga tingkat utilisasi turun seiring melonjaknya tenaga angin dan surya,” kata Christine Shearer, analis riset di GEM.
“Risiko yang lebih besar adalah opportunity cost: setiap PLTU batu bara yang menganggur berarti modal yang tidak digunakan untuk membangun sistem listrik bersih dan fleksibel yang sesungguhnya bisa menjadikan China pemimpin dunia.”
Namun, fakta bahwa PLTU batu bara baru diajukan tidak berarti semuanya akan dibangun.
Pemerintah berencana mencapai puncak penggunaan batu bara pada 2026–2030, dan hanya 45 gigawatt izin yang diterbitkan tahun lalu—jumlah paling sedikit sejak 2021—menurut laporan tersebut.
Beijing ingin mengalihkan peran batu bara dari penyedia beban dasar (baseload) listrik menjadi penopang tenaga surya dan angin yang berfluktuasi sepanjang hari.
Badan perencanaan ekonomi pemerintah mengatakan pekan lalu bahwa mereka akan memperluas skema pembayaran kepada pembangkit listrik termal dan fasilitas penyimpanan energi agar siap siaga menyesuaikan produksi listrik sesuai kebutuhan.
(bbn)






























