"Tapi buat Kadin yang paling penting ialah, bagaimana dunia usaha, private sector, bisa membantu industrialisasi menuju kepada kemandirian maritim, tapi juga ekonomi bertumbuh," sambungnya.
Anindya menyebut, PT PAL Indonesia memperkirakan apabila seluruh rencana berjalan lancar, industri perkapalan dapat memberikan tambahan hingga 1,9% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2029.
Ia menambahkan, pengalaman negara seperti Jepang dan Korea Selatan menunjukkan pengembangan industri maritim membutuhkan konsistensi dalam jangka menengah. Korea sendiri, kata dia, baru serius mengembangkan sektor ini sejak awal 2000-an, namun hasilnya sudah terlihat dalam kurun sekitar 25 tahun.
"Jadi saya rasa kalau misalnya kita ada kesempatan, ini bagus sekali," tegasnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menyepakati kerja sama di bidang maritim. Kerja sama itu berupa proyek pembangunan kapal tangkap ikan bagi nelayan Indonesia.
“Kerja sama pembangunan 1.582 kapal nelayan,” kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di London, Inggris, Rabu (21/1/2026) waktu setempat.
Teddy menjelaskan proyek pembangunan kapal ini diprediksi bisa menyerap 600.000 tenaga kerja di dalam negeri. Rinciannya, 30.000 orang awak kapal, 400.000 orang pekerja produksi, dan 170.000 orang yang akan merasakan multiplier effect (efek pengganda) dari aktivitas ini.
“Yang menarik begini, kapal ini menurut Menteri Kelautan Perikanan akan memperkerjakan sekitar 600.000 orang. Karena nanti diproduksinya, dirakitnya di Indonesia,” ujar dia.
Ia menambahkan Inggris juga berkomitmen untuk berinvestasi di Indonesia sebesar 4 miliar Poundsterling atau sekitar Rp90 triliun. “Ada komitmen investasi sebesar 4 miliar Poundsterling, itu sekitar Rp90 triliun,” katanya.
(ell)




























