Negara penyumbang defisit terbesar adalah Tiongkok yang mencapai US$20,50 miliar, diikuti oleh Australia yang berada di posisi kedua dengan total defisit mencapai US$5,63 miliar. Sementara, Singapura berada di posis ketiga yang sumbang defisit US$5,47 miliar.
"Surplus didorong oleh lemak minyak dan hewan nabati yang surplus US$34,06. Lalu bahan bakan mineral US$28,01 miliar, dan besi baja sebesar US$18,44 miliar," tutur Ateng.
"Sementara yang defisit berasal dari mesin dan peralatan mekanik yang defisit US$28,48 miliar. Kedua berasal dari mesin dan peralatan elektronik US$12,68 miliar, serta plastik dan barang darinya sebesar US$7,70 miliar."
Pada Desember 2025, neraca dagang Indonesia juga masih surplus sebesar US$2,51 miliar, sekaligus menjadi surplus selama 68 bulan beruntun sejak Mei 2020 lalu.
(lav)




























