Sebelumnya, konsensus Bloomberg yang melibatkan 19 analis/ekonom memperkirakan median proyeksi pertumbuhan ekspor pada Desember masih lesu yaitu hanya 0,34%. Sementara ekspor tumbuh lambat, impor justru diprediksi terkontraksi 2,7%.
Sebagai pembanding, pada November tahun lalu capaian ekspor masih terkontraksi sebesar 6,6%. Di sisi lain, capaian impor tumbuh meski hanya 0,46%.
Proyeksi ini mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia belum sepenuhnya menemukan pijakan yang kokoh. Lambatnya kinerja ekspor mencerminkan belum pulihnya permintaan global, sementara kontraksi impor mengindikasikan permintaan domestik yang juga belum sepenuhnya bergairah.
Kontraksi ekspor terjadi juga disumbang oleh perlambatan ekonomi China, normalisasi harga komoditas, juga permintaan manufaktur global yang belum pulih. Data Desember dan kuartal IV-2025 menunjukkan pertumbuhan yang lambat di China.
Meski konsumsi bukan jadi penekan utama, tapi pertumbuhan ritel China juga melambat 0,9% yoy pada Desember, dari puncaknya 6,4% pada Mei dan 5% pada paruh pertama 2025.
Sementara perlambatan impor dapat dipahami sebagai cerminan kondisi pasar dan ekonomi domestik. Proyeksi capaian impor yang masih terkontraksi 2,7% mengindikasikan dunia usaha masih menahan ekspansi, sementara konsumsi belum cukup kuat untuk mendorong permintaan barang impor.
(lav)

























