Logo Bloomberg Technoz

“Kalau yang jatuh saham gorengan, saya sudah ingatkan dari dulu,” kata Purbaya.

Sebaliknya, Purbaya menilai saham-saham dengan fundamental kuat relatif lebih stabil dan belum sepenuhnya mencerminkan potensi pertumbuhan ke depan. Oleh karena itu, ia menyarankan investor yang merasa khawatir terhadap volatilitas pasar untuk mengalihkan perhatian ke saham-saham dengan kinerja dan fundamental yang lebih solid.

Pandangan tersebut sejalan dengan analisis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) yang menilai tekanan pasar saat ini lebih bersifat sentimen dan teknikal jangka pendek. Analis BRIDS Reza Diofanda kepada BloombergTechnoz menerangkan, volatilitas IHSG meningkat tajam hingga sempat memicu trading halt dua kali dalam dua hari terakhir, terutama dipicu oleh pengumuman terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI).

BRIDS mencatat MSCI masih menyoroti isu transparansi free float dan struktur kepemilikan saham Indonesia, sehingga memberlakukan interim freeze terhadap perubahan positif indeks, termasuk pada review Februari 2026.

Meski demikian, BRIDS menilai kondisi tersebut tidak mencerminkan penurunan fundamental emiten secara menyeluruh.

“Mengacu pada materi MSCI yang telah dibahas sebelumnya, kondisi ini bersifat sentimen dan teknikal jangka pendek, bukan karena penurunan fundamental emiten secara menyeluruh,” ucap Reza, dikutip Senin (2/2/2026).

“MSCI juga memberikan window waktu hingga Mei 2026 bagi regulator dan otoritas pasar untuk melakukan perbaikan transparansi, sebelum dilakukan evaluasi lanjutan terhadap bobot dan status pasar Indonesia.”

Mengacu pada pengalaman negara lain, termasuk India, BRIDS menilai fase ketidakpastian akibat proses peninjauan indeks global umumnya direspons pasar dengan volatilitas tinggi pada tahap awal. Seiring komunikasi dan langkah konkret dari regulator, kondisi pasar dinilai cenderung berangsur stabil.

Dalam situasi tersebut, BRIDS menerangkan bahwa strategi yang relevan adalah bersikap wait and see sambil mencermati perkembangan kebijakan dan pernyataan resmi otoritas.

Dari sisi investasi, investor dinilai dapat mulai mengamati peluang secara selektif, khususnya pada saham-saham berfundamental kuat, arus kas stabil, dan dividend yield tinggi ketika valuasi memasuki area yang lebih menarik.

BRIDS juga menegaskan hingga periode peninjauan MSCI pada Mei 2026, pasar berpotensi berada dalam fase de-risking. Karena itu, fokus pada kualitas emiten, selektivitas, serta manajemen risiko dinilai lebih relevan dibandingkan pendekatan agresif di tengah sentimen yang belum sepenuhnya mereda.

(wep)

TAG

No more pages
← Prev article

Artikel Terkait

Baca Juga

Lainnya

Bloomberg Businessweek Indonesia

Z-Zone