Logo Bloomberg Technoz

Pelaku pasar hari ini akan mencermati hasil pertemuan antara pejabat keuangan dengan pejabat MSCI. 

Dari pasar Amerika Serikat (AS) penunjukkan mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh sebagai ketua The Fed berikutnya menutup proses panjang dan penuh dinamika untuk menggantikan Jerome Powell. 

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kandidat pilihannya itu perlu menurunkan suku bunga demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi domestik AS. Dewan Gubernur The Fed kemungkinan akan dibentuk sesuai dengan preferensi Trump, dan berpotensi kehilangan figur dovish yang paling persuasif, yakni Jerome Powell dan Christopher Waller. Mungkin skenario itu masih agak jauh, dan Warsh juga berpotensi membuktikan diri sebagai ketua The Fed yang persuasif. 

Dari Asia, perhatian pasar tertuju ke Jepang, seiring penantian arah kebijakan suku bunga bank sentral Jepang, Bank of Japan (BOJ), di tengah tanda-tanda perlambatan belanja konsumen. Bloomberg Economics mencatat inflasi Jepang melambat ke 1,5%, turun di bawah ambang 2% untuk pertama kalinya sejak Oktober 2024.

“Momentum harga melambat lebih dari perkiraan karena faktor kebijakan, serta perlambatan inflasi barang dan jasa, sempat ada pandangan bahwa kenaikan suku bunga bisa dimajukan, tetapi data hari ini kemungkinan meredam pandangan tersebut” kata Masato Koike, ekonom senior di Sompo Institute Plus, seperti dikutip Bloomberg Economics.

Meski tekanan harga relatif mereda, data yang kerap jadi petunjuk awal arah inflasi nasional ini justru memperkuat keyakinan Bank of Japan (BOJ) bahwa prospek ekonominya semakin realistis. Ini menjadi syarat bagi bank sentral itu untuk mengurangi pelonggaran kebijakan.

Dalam konteks dinamika global tersebut, pelaku pasar akan mencermati sejumlah rilis data dan agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah aset keuangan ke depan. Berikut agenda yang perlu dicermati pada pekan ini:

Senin, 2 Februari 2026

  1. Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data Inflasi dan Neraca Perdagangan Ekspor-Impor Januari 2026. Survei Bloomberg memperkirakan impor masih akan terkontraksi 0,9% sementara ekspor tumbuh lambat jadi 1% dari sebelumnya terkontraksi 6,6%. Neraca perdagangan diperkirakan akan susut sedikit dari capaian sebelumnya US$2.662 juta menjadi US$2.530 juta. 

  2. Pertemuan BEI-OJK dengan MSCI untuk menyatakan komitmen meningkatkan transparansi dan tata kelola. Pertemuan ini akan menentukan arah pasar keuangan domestik dan potensi arus modal yang masuk.  

  3. S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index. 

  4. Pengumuman data kedatangan turis mancanegara ke Indonesia. 

  5. Penetapan suku bunga acuan oleh bank sentral Jepang. Laju inflasi yang rendah dari perkiraan dan belanja konsumen yang masih lesu membuat Jepang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya secara bertahap. 

  6. Zona Eropa akan merilis data penjualan ritel secara bulanan dan tahunan, serta data industri produksi secara tahunan dan bulanan, dan data anggaran berimbang (budget balance). Selain itu kawasan ini juga akan merilis data inflasi tahunan dan bulanan. Inflasi kawasan ini diperkirakan turun dari 1,9% sebelumnya menjadi 1,7%, terendah sejak September 2024. 

  7. China dijadwalkan akan merilis data RatingDog China PMI Manufacturing, yang akan menjadi indikator awal arah aktivitas sektor manufaktur. 

Selasa, 3 Februari 2026

  1. AS akan merilis data lowongan kerja. Jumlah lowongan kerja berfluktuasi di kisaran 7,15-7,75 juta sepanjang tahun lalu. Ekonom memprediksi laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) naik sebanyak 100 ribu lowongan pada Desember 2025, setelah turun sebanyak 303 ribu pada November yang menjadi capaian terendahnya sejak September 2024. 

  2. Data penjualan mobil di AS, diperkirakan turun pada Januari setelah mengalami lonjakan pada Desember. Estimasi Bloomberg memprediksi penjualan kendaraan di AS pada Januari sebanyak 15,20 juta unit, lebih rendah dari capaian bulan sebelumnya 16,02 juta. 

  3. Zona Eropa akan merilis data pengangguran dan data inflasi, baik tahunan maupun bulanan. 

  4. Korea Selatan dijadwalkan merilis data inflasi. Inflasi Korea Selatan diperkirakan berada di 0,4% secara bulanan, dan 2,0% secara tahunan sedikit lebih rendah dari tahun lalu 2,3%. 

Rabu, 4 Februari 2026

  1. AS akan merilis data PMI jasa ISM yang diperkirakan turun tipis pada Januari. Bloomberg Economics memperkirakan permintaan melemah setelah lonjakan yang terjadi pada Desember. Persediaan dan aktivitas produksi juga diperkirakan sedikit menurun, meski bagi The Fed, tekanan harga di sektor jasa tampak mereda. 

  2. Bank of Japan dijadwalkan merilis data monetary based yang terdiri dari uang kartal yang beredar, cadangan bank di Bank of Japan. Pada Desember 2025, monetary based terkontraksi 9,8%, mempertegas pergeseran kebijakan BoJ dari ekspansi likuiditas menuju fase normalisasi yang cenderung berhati-hati. 

  3. S&P Global Japan PMI Composite dan S&P Global Japan PMI Services.

  4. RatingDog China PMI Composite, dan PMI Services, yang memberikan gambaran mengenai aktivitas ekonomi di luar sektor manufaktur. PMI Services mencerminkan kinerja sektor jasa, sementara PMI Composite menggabungkan sektor manufaktur dan jasa untuk menunjukkan kondisi ekonomi secara keseluruhan. PMI Services China diperkirakan berada di 52. 

Kamis, 5 Februari 2026

  1. Bank Indonesia mengumumkan Laporan Ekonomi Indonesia Triwulan I 2026. Survei Bloomberg memperkirakan ekonomi tumbuh sebesar 5,03% pada 2026, dengan pertumbuhan kuartal I-2026 sebesar 4,99% yoy, sedikit lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Inflasi diperkirakan naik ke 3,6% yoy pada kuartal I-2026, sementara suku bunga acuan Bank Indonesia diproyeksikan tetap di 4,75% hingga akhir kuartal I sebelum turun ke 4,50% pada akhir Kuartal II.

PDB 2Q26: +4,9% yoy 

vs sebelumnya +4,9%

IHK (CPI) 1Q26 +3,6% yoy

vs sebelumnya +3,4%

IHK (CPI) 2026 +2,7% yoy

vs sebelumnya +2,8%

Suku bunga acuan BI 4,75%

Proyeksi akhir 1Q26 4,75%, akhir 2Q26 4,50%

 

  1. Klaim pengangguran awal AS diperkirakan naik dari sebelumnya 209 ribu menjadi 216 ribu, mengindikasikan mulai munculnya pelonggaran di pasar tenaga kerja AS. Meski masih di level rendah secara historis, kenaikan ini memberi sinyal awal meredanya tekanan upah dan bisa membuka ruang bagi The Fed untuk mempertahankan sikap hati-hati terhadap pengetatan kebijakan moneter. 

  2. Zona Eropa dijadwalkan merilis serangkaian data produksi industri, baik secara tahunan maupun bulanan, termasuk manufacturing production. Rilis ini akan menjadi barometer penting untuk menilai kesehatan sektor manufaktur di tengah lemahnya permintaan dan tekanan biaya yang masih membayangi kawasan tersebut. Selain itu, data tingkat pengangguran di kawasan ini juga akan dipaparkan pada hari yang sama. 

  3. Zona Eropa juga dijadwalkan merilis data penjualan ritel bulan Desember. Secara bulanan penjualan ritel kawasan diperkirakan akan terkoreksi 0,2%. 

  4. Thailand dijadwalkan merilis data inflasi tahunan, dan inflasi inti tahunan. 

Jumat, 6 Februari 2026

  1. Bank Indonesia dijadwalkan merilis data cadangan devisa Januari 2026, Laporan Survei Harga Properti Residensial Triwulan IV 2025, dan Uang Primer M0 Adjusted. Tiga indikator yang bersama-sama membuka peta risiko awal tahun. Cadangan devisa akan diuji sebagai bantalan stabilitas di tengah tekanan global, survei harga properti membaca tingkat permintaan domestik, sementara pergerakan M0 menjadi sinyal dini seberapa longgar likuiditas dan seberapa efektif transmisi kebijakan moneter bekerja.

  2. Zona Eropa dijadwalkan merilis sejumlah data kunci seperti capaian ekspor-impor, neraca perdagangan, wholesale price index, dan cadangan devisa. Rangkaian indikator ini akan memberikan gambaran menyeluruh mengenai keseimbangan eksternal dan tekanan harga di tingkat produsen. Kinerja perdagangan akan menunjukkan seberapa kuat permintaan global terhadap produk Zona Eropa. 

  3. Thailand dijadwalkan merilis data cadangan devisa. 

  4. Korea Selatan dijadwalkan merilis data Balance of Payments (BoP) Desember, menyusul surplus pada November yang tercatat sebesar US$12,24 miliar, ditopang oleh kinerja neraca perdagangan barang yang solid. Serta data kinerja Balance of Goods (neraca barang) yang juga mengalami surplus pada November menjadi US$13.309,2 juta dari capaian bulan sebelumnya US$7.817,3 juta. 

(riset/aji)

No more pages