Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, dia memastikan FS yang dilakukan bakal menentukan jenis baterai yang akan diproduksi.

Kajian ini turut membahas produk akhir baterai untuk baterai listrik atau ikut membuka kemungkinan pada pasar baterai pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

“Karena opsinya ada banyak tapi tentunya kita ingin memaksimalkan yang dari nikel kita,” ujar Aditya.

Konsorsium pimpinan Huayou dengan nama HYD Investment Limited itu terdiri dari Huayaou, EVE Energy Co., Ltd. dan PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan nilai investasi ekosistem baterai listrik dengan kode proyek Titan itu mencapai US$6 miliar. Adapun, kapasitas produksi baterai ditarget mencapai 20 gigawatt hour (GWh).

Bahlil menjelaskan pabrik prekursor katoda dari proyek tersebut bakal dibangun di Jawa Barat. Sementara smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL) akan dibangun di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Lebih lanjut, nikel yang dipasok untuk smelter tersebut akan bersumber dari tambang milik Antam. Dengan begitu, Bahlil mengklaim Indonesia bakal memiliki porsi saham mayoritas dalam lini hulu proyek Titan.

“Di atas 50%. Kita mau bikin masih maksimal, yang jelas di atas 50%, 60% sampai 70%, kita akan buat begitu, ya,” tegas dia.

Sementara pada lini hilir, Bahlil mengungkapkan konsorsium HYD bakal memegang saham mayoritas, sebab menjadi pihak yang memiliki teknologi.

Proyek Titan sempat ditargetkan mulai pembangunan pada Desember 2025, namun meleset.

Awalnya, pemimpin konsorsium proyek ini adalah LG Energy Solution Ltd. (LGES) yang belakangan didepak pemerintah lantaran berlarut-larutnya rencana investasi.

Huayou kemudian mengambil alih posisi pimpinan konsorsium untuk melanjutkan proyek.

Hampir serupa dengan Proyek Dragon besutan CATL-IBC yang baru diresmikan pemerintah, Proyek Titan  juga dirancang sebagai ekosistem baterai terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari tambang, fasilitas pengolahan nikel HPAL, prekursor, katoda, hingga pabrik sel baterai dan fasilitas daur ulang.

Namun, hingga kini, posisi dan porsi Indonesia dalam proyek tersebut masih belum final. Bahlil sebelumnya menjelaskan bahwa BUMN melalui Antam memegang kendali 51% di lini hulu proyek tersebut.

Akan tetapi, di lini antara dan hilir, porsi Indonesia melalui IBC hanya di angka 30%.

Pemerintah saat ini tengah berupaya menegosiasikan peningkatan kepemilikan di lini hilir BUMN di Proyek Titan melalui partisipasi Danantara.

(azr/naw)

No more pages