Langkah tersebut menjadi cerminan keberanian pemerintah dan respons cepat yang diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan.
"Dengan kebijakan seperti ini, dan respons yang clear dan berani, harusnya mereka lihat bahwa kita sungguh-sungguh mengembalikan kepercayaan ke pasar modal kita," tutur dia.
Pada perdagangan Kamis (29/1/2026) kemarin, pasar surat utang memang tercatat mengalami tekanan jual yang melanda hampir seluruh tenor surat utang negara (SUN).
Hal itu turut mendorong kenaikan yield, yang mencerminkan premi risiko yang kembali diminta investor, lantaran meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas arus dana asing dan volatilitas pasar keuangan domestik dalam jangka pendek.
Yield tenor 1 tahun naik 4,4 basis poin (bps) ke level 4,93%, diikuti tenor 2 tahun naik 2,2 bps ke 5,19%, dan 3 tahun naik 2,6 bps naik 2,6 bps ke 5,48%. Tekanan berlanjut di tenor menengah dengan yield 5 tahun naik 1,7 bps ke 5,76%, tenor 7 tahun meningkat 0,5 bps ke 6,33%, serta tenor 10 tahun naik 1,5 bps ke 6,37%.
Untuk tenor panjang seperti 20 tahun juga mencatatkan kenaikan yield 1,3 bps ke 6,62% dan tenor 30 tahun meningkat 0,7 bps ke 6,74%.
Kenaikan yield ini menandakan investor secara luas meminta premi risiko yang lebih tinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar dan kredibilitas otoritas pasar domestik.
Meningkatnya persepsi risiko investor di pasar surat utang tercermin dalam Credit Default Swap (CDS). CDS sovereign Indonesia tenor lima tahun berada di kisaran 74,78 basis poin, dibandingkan Malaysia di 39,31 bps dan Thailand di 38,90 bps.
(lav)


























