Dirut BRI Ungkap Arah Penguatan Fintech Indonesia di WEF 2026

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk menilai sektor financial technology atau Fintech di Indonesia masih memiliki ruang pengembangan yang sangat besar. Potensi tersebut sejalan dengan meningkatnya minat investor serta pelaku industri keuangan global yang melihat Indonesia sebagai pasar strategis untuk kolaborasi dengan perbankan nasional.
Pandangan tersebut disampaikan Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam forum Indonesia Pavilion pada ajang World Economic Forum Davos 2026. Hery hadir sebagai pembicara dalam panel bertajuk Capital for Sustainability Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets yang digelar Selasa 20 Januari 2026.
Forum internasional tersebut mempertemukan berbagai pemimpin industri keuangan global. Panel juga diikuti oleh President and Chief Executive Officer of TCW Katie Koch serta Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini, dengan Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Lubis bertindak sebagai moderator diskusi.
Dalam forum itu, Hery menekankan bahwa Fintech merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem layanan keuangan yang memiliki irisan langsung dengan bisnis perbankan. Kehadiran Fintech bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi juga membuka peluang sinergi yang dapat memperluas jangkauan layanan keuangan kepada masyarakat.
Menurut Hery, secara umum Fintech dapat dikelompokkan ke dalam dua segmen utama, yakni Fintech lending dan Fintech berbasis transaksi atau pembayaran. Kedua segmen tersebut memiliki karakteristik, peluang, serta tantangan yang berbeda dalam pengembangannya di Indonesia.
“Dua segmen ini sangat dekat dengan bisnis perbankan. Setiap Fintech memiliki tantangan yang berbeda. Sehingga, untuk membangun bisnis Fintech yang berkelanjutan dapat mengeksplorasi berbagai layanan keuangan lokal, untuk memahami karakter dan kebutuhan masyarakat Indonesia," ujarnya.
Hery menilai pemahaman terhadap kebutuhan lokal menjadi faktor kunci agar kolaborasi antara perbankan dan Fintech dapat berjalan berkelanjutan. Indonesia memiliki karakter pasar yang unik, baik dari sisi demografi, tingkat literasi keuangan, maupun preferensi masyarakat dalam menggunakan layanan keuangan digital.
Ia juga menyoroti bahwa dengan lebih dari 120 bank yang beroperasi di Indonesia, Fintech berbasis pembayaran memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Banyaknya institusi perbankan menciptakan kebutuhan akan sistem pembayaran yang efisien, cepat, dan terintegrasi dengan berbagai kanal layanan.
Di sisi lain, Hery mengingatkan bahwa segmen Fintech lending memiliki tingkat risiko yang relatif lebih tinggi. Oleh karena itu, aspek manajemen risiko menjadi perhatian utama agar pertumbuhan bisnis tidak mengorbankan stabilitas sistem keuangan.
Menurutnya, keberhasilan Fintech lending sangat bergantung pada pemahaman yang mendalam terhadap profil nasabah, kualitas data, serta mekanisme penyaluran pembiayaan yang prudent. Tanpa pengelolaan risiko yang baik, potensi masalah kredit dapat meningkat dan berdampak pada kepercayaan publik.
Digitalisasi Jadi Kunci Ekosistem Keuangan
Hery juga menempatkan perkembangan Fintech dalam konteks transformasi digital yang lebih luas. Di era teknologi pintar saat ini, institusi keuangan di seluruh dunia terus menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan layanan digital dalam aktivitas sehari-hari.
Industri keuangan di Indonesia pun tidak terlepas dari tren tersebut. Digitalisasi menjadi keniscayaan untuk meningkatkan efisiensi, memperluas inklusi keuangan, serta memberikan pengalaman layanan yang lebih baik bagi nasabah.
BRI, sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, menjawab tantangan ini melalui pengembangan ekosistem digital banking yang komprehensif. Ekosistem tersebut mencakup berbagai kanal layanan yang dirancang untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Hery menjelaskan bahwa BRI mengembangkan layanan mulai dari ATM dan Cash Recycling Machine, jaringan Agen BRILink, Internet Banking, hingga super apps BRImo. Seluruh kanal tersebut dirancang untuk mendukung kemudahan transaksi dan pembayaran bagi kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.
Keberadaan Agen BRILink, misalnya, dinilai memiliki peran strategis dalam memperluas akses layanan keuangan hingga ke wilayah terpencil. Melalui kolaborasi dengan Fintech, agen-agen ini juga berpotensi menjadi simpul penting dalam ekosistem pembayaran digital nasional.
BRImo sebagai super apps juga terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan generasi digital. Aplikasi ini tidak hanya melayani transaksi perbankan dasar, tetapi juga terintegrasi dengan berbagai layanan pembayaran dan kebutuhan finansial lainnya.
Hery menegaskan bahwa inovasi digital yang dilakukan BRI tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada aspek keamanan dan relevansi layanan. Kepercayaan nasabah menjadi fondasi utama dalam pengembangan solusi keuangan digital.
Dalam konteks global, kehadiran BRI di forum WEF Davos 2026 menunjukkan komitmen perusahaan untuk aktif berpartisipasi dalam diskursus internasional mengenai pembiayaan berkelanjutan. Fintech dipandang sebagai salah satu enabler penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Minat investor global terhadap Fintech Indonesia dinilai sebagai sinyal positif bagi masa depan industri keuangan nasional. Kolaborasi lintas negara dan lintas sektor diharapkan dapat mempercepat transfer pengetahuan, teknologi, serta praktik terbaik dalam pengelolaan layanan keuangan digital.
Namun demikian, Hery menekankan bahwa kolaborasi tersebut harus tetap memperhatikan karakteristik pasar domestik. Adaptasi lokal menjadi kunci agar solusi global dapat diterima dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.
Dengan pendekatan tersebut, BRI optimistis Fintech dapat menjadi motor penggerak baru dalam memperkuat ekosistem keuangan nasional. Sinergi antara perbankan, Fintech, dan investor global diharapkan mampu mendorong inklusi keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.






























