Logo Bloomberg Technoz

Dalam jabatannya di MIND ID, Aditya terlibat dalam penyusunan rencana jangka panjang holding tambang BUMN, menyusun strategi ESG, pengembangan teknologi baterai kendaraan listrik, hingga rencana pengolahan mineral kritis.

Sebelum itu, Aditya berkarier di anak perusahaan PT Pupuk Indonesia yang bergerak di bidang engineering, procurement, dan construction (EPC), yakni PT Rekayasa Industri (Rekind).

Pada periode 2019–2021, Aditya menjabat sebagai Manager of New Investment. Hingga akhirnya dia dipromosikan menjadi Vice President of Corporate Planning & New Investment pada 2021 dan menjabat hingga 2022.

Sebelum itu, pada periode 2009–2014, Aditya telah sudah berkarier di Rekind sebagai Senior Product Owner pada Strategic Business Unit Migas Onshore.

Aditya merupakan lulusan teknik kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), lalu melanjutkan studi S2 di kampus yang sama dan masih dalam jurusan teknik kimia.

Kemudian, dia meraih gelar doctor of engineering dari Hiroshima University, Jepang, serta pernah menjadi Research Professor di universitas yang sama. Ia juga pernah menjalani riset di ETH Zurich, Swiss, serta menjadi dosen tamu di ITB sejak 2019.

Di bidang riset, Aditya tercatat sebagai penerima Hosokawa Young Promising Researchers Award 2016 dan Society of Powder Technology Japan (SPTJ) Outstanding International Contributor 2019. Ia juga aktif menerbitkan publikasi ilmiah di jurnal internasional.

Sekadar catatan, IBC sempat mengklaim rencana bisnis perseroan tak terpengaruh meskipun posisi direktur utama masih kosong. Dalam kaitan itu, rapat umum pemegang saham (RUPS) pun telah diagendakan untuk memilih pimpinan baru usai ditinggalkan Toto Nugroho.

Vice President (VP) Investor Relations IBC Marvin Reinhart menjelaskan seluruh proses investasi perusahaan masih berjalan dan saat ini tengah fokus mempersiapkan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) terintegrasi yang digarap bersama konsorsium Huayou alias Proyek Titan.

“Jadi RUPS sendiri sedang dijadwalkan, insyallah segera. Memang untuk proses administrasi dan GCG [good corporate governance], so far sih, balik lagi, kami berusaha untuk mengikuti administrasi yang diletakkan,” kata Marvin kepada awak media di sela International Battery Summit, medio Agustus 2025.

Dia menegaskan proses hukum yang menjerat eks Dirut IBC Toto Nugroho tidak memengaruhi pengerjaan proyek ekosistem baterai senilai hampir US$6 miliar itu.

So far sih, on a day to day basis, there's not much variance, atau problem terhadap [proyek] itu,” klaim dia.

Terkait dengan pengerjaan Proyek Titan, Marvin menyatakan IBC tengah mempersiapkan studi kelayakan atau feasibility studies (FS) untuk rencana pembangunan proyek baterai terintegrasi tersebut.

Dia menargetkan proyek dengan nilai investasi US$9,8 miliar tersebut mulai terealisasi pada 2026.

“Proyek Titan seperti mungkin kalian ketahui juga, partner-nya [Huayou] itu, kita baru berbicara awal tahun ini, setelah yang sebelumnya [LG Energy Solutions Ltd.] mengundurkan diri,” ucapnya.

“Diskusi memang masih sedikit di awal ya, bisa dibilang di framework agreement, kita baru bahas, tetapi sudah lumayan, lumayan jalan cukup jauh lah,” tegas Marvin.

Kementerian ESDM sendiri sempat menargetkan groundbreaking proyek ekosistem baterai terintegrasi yang digarap IBC dengan konsorsium Huayou tersebut bakal dilakukan akhir 2025.

Target tersebut diungkapkan usai rencana peletakan batu pertama yang ditargetkan dilakukan September 2025 batal dilakukan.

Akan tetapi, hingga awal 2026 kepastian peletakan batu pertama Proyek Titan tak kunjung mendapatkan kejelasan.

Di sisi lain, Kementerian ESDM menargetkan pabrik baterai listrik terintegrasi garapan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) bersama IBC atau Proyek Dragon dapat beroperasi pada semester I-2026.

(azr/ros)

No more pages