Logo Bloomberg Technoz

Seruan Trump untuk penambahan anggaran pertahanan Washington sebesar US$500 miliar, sementara itu, turut mendorong kenaikan tersebut karena potensi manfaat bagi perusahaan di luar AS. Lonjakan investasi di sektor ini tercermin dalam percakapan yang diungkapkan oleh analis Bank of America Corp., Michael Hartnett, dalam catatan pekan ini. Ia mengatakan, “pertahanan adalah tema ekuitas dalam jangka panjang terbaik ... di mana pun.”

Analis di Morningstar Inc. memperkirakan saham pertahanan Eropa yang mereka pantau berpotensi naik rata-rata 20% tahun ini, dengan kinerja dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik dan paparan terhadap pengeluaran AS. Retorika Trump mengenai Greenland diperkirakan akan mempercepat pergeseran Eropa menuju kemandirian, tulis analis Loredana Muharremi.

Saham industri pertahanan di Eropa.

Dengan Jerman sebagai pusat rencana pengeluaran militer regional, produsen senjata Rheinmetall AG telah menjadi favorit investor. Sahamnya mengikuti lonjakan rekor 150% pada 2025 dengan kenaikan sekitar 22% pada Januari. 

“Jika saya hanya boleh memilih satu saham dari portofolio saya saat ini, itu akan menjadi Rheinmetall,” kata Vera Diehl, manajer portofolio di Union Investment Privatfonds GmbH. Dia melihat Saab AB dan Kongsberg Gruppen ASA sebagai penerima manfaat dari ketegangan Greenland, mengingat kedekatan geografis mereka. “Trump telah menjadi lebih agresif, jadi Anda berpikir akan ada lebih banyak lagi yang akan datang.”

Peningkatan harga saham juga mendorong beberapa pemain terbesar di industri pertahanan Eropa mempersiapkan rencana go public (IPO). Czechoslovak Group AS, produsen kendaraan lapis baja dan amunisi yang dimiliki oleh miliarder Michal Strnad, sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan penawaran umum perdana di Amsterdam secepatnya minggu depan, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.

Pertahanan dan keamanan juga dengan cepat menjadi tema utama bagi investor Asia di awal 2026, mengingat harapan bahwa kawasan ini akan mendapat manfaat dari pesanan ekspor. 

Perusahaan asal Korea Selatan Hanwha Aerospace Co. termasuk di antara yang memimpin tren ini, naik hampir 30% bulan ini setelah naik tiga kali lipat tahun lalu. Rekan lokal Hyundai Rotem Co. naik 16%. Aerospace Industrial Development Corp. Taiwan dan Howa Machinery Ltd. Jepang termasuk di antara pemenang lainnya dari kawasan ini.

Saham-saham perusahaan industri pertahanan di Asia naik.

“Kami optimis terhadap pemasok pertahanan besar, terutama di Korea Selatan, pasalnya mereka memperluas bisnis ekspor dan penjualan internasional untuk memanfaatkan peningkatan belanja pertahanan global yang pesat,” kata Weiheng Chen, strategis investasi global di JPMorgan Private Bank.

Hanwha Aerospace dan Hyundai Rotem berpeluang memenangkan pesanan ekspor besar dari pasar seperti Irak dan Arab Saudi tahun ini, menurut Cha So-Yoon, manajer investasi ekuitas di Taurus Asset Management di Seoul.

Tidak heran, saham pertahanan AS juga mengalami kenaikan pada Januari. Indeks saham kontraktor regional Goldman Sachs telah naik 13%, setelah kenaikan 30% pada 2025. Dorongan dari upaya Trump untuk meningkatkan pengeluaran militer diredam oleh rencananya untuk membatasi pembelian kembali saham dan dividen di sektor tersebut.

Bagi sebagian pihak, pembatasan pembayaran kepada pemegang saham dapat menjadi faktor positif tambahan bagi perusahaan pertahanan di luar AS.

“Pembatasan redistribusi modal dapat mengurangi minat investor terhadap saham pertahanan AS, yang berpotensi menguntungkan perusahaan Eropa,” kata analis Mediobanca yang dipimpin Alessandro Pozzi, yang menilai BAE Systems Plc dan Leonardo SpA memiliki eksposur terbesar terhadap anggaran AS di antara perusahaan yang mereka pantau.

Namun, ada tantangan potensial bagi prospek kuat sektor ini. Kemajuan dalam upaya perdamaian Ukraina kemungkinan akan meredam sentimen. Kekhawatiran lain adalah valuasi: reli terbaru telah mendorong saham pertahanan Eropa ke level yang mahal relatif terhadap indeks acuan regional. 

(bbn)

No more pages