Sun Chanthol, yang memimpin perundingan tarif dengan Amerika Serikat, juga mengatakan pembicaraan dagang tengah berlangsung dan menyerukan Washington memangkas tarif atas ekspor utama seperti garmen dan alas kaki.
AS dan China telah meminta bantuan negara-negara Asia Tenggara untuk memberantas operasi penipuan berskala industri di wilayah terpencil dan perbatasan Kamboja, Myanmar, dan Laos, yang diduga telah merugikan korban di seluruh dunia hingga miliaran dolar.
Wakil perdana menteri mengatakan ia ingin para pengungsi akibat konflik dapat kembali ke rumah, seraya menekankan besarnya dampak kemanusiaan dari pertempuran tersebut. Ia tidak memberikan estimasi kerugian ekonomi, namun menyebut perdagangan tetap tumbuh tahun lalu meski terjadi bentrokan, dengan volume ekspor meningkat sekitar 17% dibanding setahun sebelumnya.
“Kamboja membutuhkan perdamaian, dan saya yakin Thailand juga membutuhkan perdamaian, agar kita bisa membangun negara masing-masing demi kepentingan warga kita,” ujarnya.
Perhatian kembali tertuju pada isu kompleks penipuan pekan ini setelah pejabat Kamboja menyatakan Chen Zhi, yang diduga menjadi gembong sindikat penipuan internasional dan menghadapi dakwaan di AS, ditangkap di Kamboja dan dideportasi ke China untuk penyelidikan.
“Ketika kami telah memiliki semua bukti, kami bertindak sesuai hukum yang berlaku,” kata Sun Chanthol. Ia tidak mengomentari alasan tersangka dikirim ke China, bukan ke AS.
“Kamboja tidak bisa memilih pihak. Kami harus berteman dengan setiap negara di dunia,” ujarnya, menambahkan, “Saya tidak mengatakan kami harus berjalan di garis tipis antara AS dan China. Kami berjalan di garis Kamboja yang menguntungkan Kamboja.”
Beberapa hari setelah konflik besar meletus pada Juli, Presiden Donald Trump mengancam akan membekukan kesepakatan dagang dengan Thailand dan Kamboja jika pertempuran tidak dihentikan.
Setelah gencatan senjata awal tercapai, AS memberlakukan tarif 19% atas barang-barang Kamboja sebagai bagian dari pungutan luas terhadap puluhan negara.
“Kami terus berdiskusi dengan USTR terkait sektor-sektor tertentu yang kami nilai seharusnya mendapat tarif timbal balik yang lebih rendah,” kata Sun Chanthol.
Ia menambahkan, Kamboja juga berupaya mendiversifikasi perdagangan yang selama ini sangat bergantung pada AS dan China, seraya menyatakan pemerintah siap memfasilitasi sektor swasta dan “menyingkir dari jalan.”
(bbn)
































