2. Bisnis Margarin dan Spreads (Blue Band)
Pada 2018, Unilever Indonesia melepas bisnis margarin dan spreads, termasuk merek Blue Band, kepada perusahaan afiliasi global Unilever. Nilai transaksi saat itu mencapai sekitar Rp2,8 triliun. Divestasi ini menjadi salah satu langkah awal penyederhanaan portofolio UNVR, sejalan dengan strategi global Unilever untuk memisahkan bisnis spreads dari lini produk lainnya.
Setelah penjualan tersebut, Blue Band tidak lagi menjadi bagian dari kinerja Unilever Indonesia.
3. Bisnis Es Krim
UNVR juga memutuskan memisahkan bisnis es krim dengan nilai transaksi sekitar Rp7 triliun. Unit usaha ini mencakup merek-merek seperti Wall’s, Magnum, Cornetto, dan Paddle Pop. Perseroan menargetkan penyelesaian transaksi tersebut rampung pada akhir 2025.
Manajemen menyebut hasil penjualan bisnis es krim akan memperkuat posisi kas dan membuka ruang pembagian dividen tunai kepada pemegang saham, sekaligus menurunkan ketergantungan terhadap pendanaan eksternal.
Setelah rangkaian divestasi tersebut, Unilever Indonesia memfokuskan bisnis pada segmen Home and Personal Care serta Nutrition, yang mencakup produk perawatan rumah tangga, personal care, serta makanan dan minuman bernilai tambah.
Mengutip website resmi perusahaan, sebelum aktif melakukan divestasi, UNVR juga tercatat beberapa kali mengakuisisi merek yang telah eksis.
Seiring perkembangan bisnis, nama perusahaan mengalami beberapa kali perubahan. Pada 22 Juli 1980, perseroan resmi menggunakan nama PT Unilever Indonesia, sebelum kembali berubah menjadi PT Unilever Indonesia Tbk pada 30 Juni 1997 sejalan dengan statusnya sebagai perusahaan terbuka.
Dalam perjalanan bisnisnya, Unilever Indonesia juga melakukan berbagai restrukturisasi dan aksi korporasi. Pada 2000, perseroan mendirikan PT Anugrah Lever bersama PT Anugrah Indah Pelangi untuk mengelola bisnis kecap dan saus dengan merek Bango dan produk sejenis. Dua tahun berselang, Unilever Indonesia membentuk PT Technopia Lever bersama Texchem Resources Berhad untuk kegiatan distribusi dan perdagangan produk pembersih bermerek Domestos Nomos, sebelum akhirnya kepemilikan Texchem dilepas pada 2003.
Unilever Indonesia juga memperkuat portofolio bisnis makanan melalui akuisisi PT Knorr Indonesia pada awal 2004, yang kemudian dilebur ke dalam perseroan melalui proses merger pada Juli 2004. Sejak saat itu, seluruh kegiatan usaha dijalankan dalam satu entitas hukum, yakni PT Unilever Indonesia Tbk.
Ekspansi bisnis berlanjut pada 2007 ketika perseroan menandatangani perjanjian bersyarat untuk mengakuisisi merek minuman sari buah Buavita dan Gogo dari Ultra. Transaksi tersebut diselesaikan pada Januari 2008 dan menambah lini produk nutrisi dalam portofolio UNVR.
(dhf)




























