Logo Bloomberg Technoz

Tiga produk anyar yang diperkenalkan adalah minuman ready-to-drink (RTD) COCO BALI, serta dua minuman beralkohol premium CLARISSA dan LIBARRON. Ketiganya dirancang khusus untuk memenuhi selera pasar internasional, khususnya Jepang dan China, serta sedang dalam tahap penjajakan untuk menembus Eropa dan Amerika Serikat.

(Dok. COCO BALI PTE LTD)

Bona menjelaskan bahwa keputusan untuk memperluas pasar ekspor bukan tanpa alasan. Menurutnya, kondisi pasar dalam negeri yang masih lesu tidak boleh menjadi penghambat pertumbuhan.

“Ketika pasar lokal sedang lesu, kami tidak boleh menyerah. Kami harus mencari peluang baru di pasar internasional yang potensinya sangat besar,” tutur dia.

Fokus Jepang dan RTD Jadi Mesin Pertumbuhan

Sebagai langkah konkret, Perseroan telah menandatangan Letter of Intent (LOI) untuk kerja sama strategis dengan Naoyoshi Co.Ltd, perusahaan logistik dan distribusi di Jepang untuk memasarkan produk COCO BALI RTD serta dua produk spirit. 

Jepang dinilai sebagai pasar paling menjanjikan, khususnya untuk kategori RTD yang pertumbuhannya sangat pesat di kawasan Asia Pasifik. Bona mengungkapkan bahwa peluang di negara tersebut sangat besar, bahkan dengan pangsa pasar yang sangat kecil sekalipun. “Ini kabar baik, karena artinya semakin banyak masyarakat Bali yang bisa kami pekerjakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika Perseroan mampu merebut hanya 0,03% dari pasar RTD Jepang, kapasitas produksi perusahaan harus ditingkatkan secara signifikan. Saat ini, pabrik Perseroan di Singaraja memiliki kapasitas produksi sekitar 3.000 CPH (Cans Per Hour). 

(Dok. COCO BALI PTE LTD)

Ke depan, kapasitas tersebut direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai 20.000 CPH (Cans per Hour). Namun, dalam jangka pendek, Perseroan memilih untuk memaksimalkan penggunaan tenaga kerja lokal dibandingkan investasi besar pada otomatisasi mesin. 

“[Untuk saat ini], tenaga kerja di Indonesia lebih terjangkau daripada automation. Lebih baik kami mempekerjakan masyarakat Bali, tambah shift hingga tiga kali, dan pabrik tetap jalan. Produktivitas tercapai tanpa investasi mesin mahal,” kata Bona.

Peluncuran produk baru ini dilakukan bersama COCO BALI PTE LTD, yang berbasis di Singapura untuk mengembangkan merek dengan pendekatan lifestyle dan intellectual property. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat posisi produk Perseroan di pasar global.

(Dok. COCO BALI PTE LTD)

Produk COCO BALI disiapkan sebagai andalan di segmen RTD. Minuman ini diracik dari coconut kopyor dengan varian sparkling agave dan golden salak. Bahan baku utama berasal dari perkebunan agave di Nusa Penida, Bali, yang menegaskan identitas lokal produk tersebut.

Bona menilai tren konsumen global, khususnya generasi muda, semakin mengarah pada minuman rendah alkohol dan rendah gula. 

“Kesadaran kesehatan meningkat, Gen Z tidak suka alkohol tinggi, mereka memilih yang easy drinking dan rendah gula. Itu sebabnya COCO BALI hadir dengan karakter tropis, clean, dan zero sugar. Untuk pasar Indonesia, kami tetap siapkan varian dengan tebu karena market lokal suka yang strong,” jelasnya.

(Dok. COCO BALI PTE LTD)

Sementara itu, CLARISSA dan LIBARRON menyasar segmen premium spirit. Kedua produk ini dirancang untuk memenuhi preferensi pasar Amerika, Eropa, dan Meksiko yang dikenal menyukai produk craft dengan karakter unik dan cita rasa tropis.

Ketiga produk ini akan menjadi pendorong utama pertumbuhan kinerja perusahaan hingga 2026. “Kami menargetkan lonjakan pertumbuhan yang signifikan dibandingkan dengan perolehan pendapatan di tahun 2025, dengan harapan kontribusi pasar ekspor akan mendominasi terhadap pendapatan di tahun 2026,” tegas Bona.

Dari sisi komposisi penjualan, pada tahap awal Perseroan memproyeksikan sekitar 60% pendapatan berasal dari ekspor dan 40% dari pasar lokal. Namun, jika kontrak dari Eropa, Amerika, dan Meksiko mulai terealisasi, komposisi tersebut berpotensi berubah drastis menjadi 90% ekspor dan hanya 10% domestik.

Selain itu, Perseroan juga tengah mengembangkan produk agave spirit atau tequila berbahan baku Bali. Inovasi ini disebut mendapat respons positif dari calon mitra internasional karena menawarkan keunikan asal-usul dan karakter lokal yang kuat. 

“Produk ini murni dari Bali, dibuat di Bali, dan akan kami bawa ke pasar global. Ini bagian dari positioning Perseroan sebagai produsen craft yang mengangkat identitas lokal.”

Sebagai catatan, sepanjang 2024 Lovina mencatatkan penjualan sebesar Rp 29,8 miliar. Perseroan optimistis ekspansi global akan menjadi titik balik kinerja Perseroan dalam beberapa tahun ke depan.

(tim)

No more pages